Sabtu, 02 April 2016

Just.. orang yang tepat.

Orang yang tepat/orang yang salah.
Pantas/memantaskan diri.
Sabar.

Merasa bahagia sendiri, pun dengan perasaan sedihnya. Keluar rumah saat malam minggu juga jarang, apalagi meluangkan waktu untuk buang-buang uang. Mungkin itu beberapa hal yang selalu dirasakan olehmu, seseorang yang belum memiliki pasangan alias jomblo.

Karena sendiri itu bukan berarti tak ada yang mau. 6 tanda ini akan memberikanmu ‘amunisi’ bahwa menjadi single itu sebuah keputusan mulia, yang belum tentu semua orang mengetahuinya.

Sering disebut terlalu pemilih. Tapi, bukankah pemilih itu berarti tak berniat main-main dalam hubungan?

bukannya pemilih, cuma hati-hati aja via sheknows.com

Tidak mudah untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Perbedaan watak, sifat dan tujuan hidup belum tentu bisa diatasi tanpa pertimbangan yang matang. Memutuskan untuk sendiri dulu, sebelum sosok tepat itu datang merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan. Bukan pemilih, hanya berhati-hati saja.

Misalnya disuruh memilih, menjadi penyendiri yang terhormat itu lebih baik dibandingkan punya pasangan tapi masih tebar pesona sana-sini. Ini juga erat kaitannya dengan masalah hati, kalau belum mantap ya tidak usah mengambil langkah.

Memutuskan untuk tetap sendiri itu sama saja dengan memanfaatkan kesempatan yang ada, yakni berjuang hidup mandiri.

yaitu berjuang hidup mandiri via scoopempire.com

Ketika permasalahan datang, diri ini rasanya berontak karena tidak sanggup mengatasinya sendiri. Saat cobaan demi cobaan hidup mendera, hati ini pun terasa pedih karena tak ada tempat berkeluh kesah. Namun inilah tantangan terbaiknya. Melawan amarah dan dendam dalam waktu yang bersamaan, justru menghasilkan kekuatan yang belum tentu di dapat dari seorang pasangan.

Berbeda ketika ada dia yang mau memanjakan dan bersedia menopang seluruh permasalahan, mungkin diri ini tak sekuat seperti sekarang.

Kamu bukan orang yang murung dan suka menyendiri. Kamu hanya ingin tahu lebih dalam, sosok seperti apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan.

di sini kamu banyak belajar via hdwallpapersrocks.com

Kalau hanya asal pilih, dalam sekejap pun pasti dapat. Pada sela-sela waktu sambil bersabar ini, tak jarang mengambil pelajaran dari hubungan salah seorang teman dengan pasangannya. Bagaimana cara berbicara yang baik, pun kapan dan di mana waktu yang tepat untuk saling berdebat misalnya. Itu hanya sebagian, namun cukup memberi pelajaran.

Saat yang lain khawatir soal pendamping hidup, kamu justru lebih serius menanam kebaikan dan menata masa depan.

lebih serius menata masa depan via zeenews.india.com

Merasa khawatir itu wajar dan sah-sah saja. Hampir semua orang pernah mengalami dan merasakannya dalam hidup. Khawatir soal jodoh, misalnya. Tapi kali ini kamu berbeda, kamu lebih sigap untuk menyikapi rasa khawatir itu dengan terus melakukan kebaikan, dan tidak lagi ragu menata masa depan.

Bagimu, sendiri sementara waktu itu tidak menjadi masalah. Asalkan Tuhan masih ada dan bersedia untuk memberikan cukup energi perihal menentukan arah.

Jangankan untuk meninggalkan, melewatkan waktu sehari untuk tidak bertemu keluarga atau sahabat-sahabatmu saja kamu enggan.

kamu enggan, untuk meninggalkan keluarga dan sahabat via gettyimages.com

Karena fokusmu belum terbagi, meluangkan waktu dengan keluarga atau sahabat-sahabatmu adalah yang paling utama. Kamu tidak pernah merasa terpaksa untuk sekadar bertanya kabar atau memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Lelahmu juga seakan tak terasa, ketika kamu melihat sunggingan senyum yang terpampang secara nyata.

Ketika sewaktu-waktu kamu punya pendamping pun, kamu akan siap mengatur segala sesuatunya termasuk durasi pertemuan. Bukankah lebih menyenangkan yang seperti ini, dibanding mengalami konflik di kemudian hari?

Tidak mau salah mengambil langkah. Lebih baik bersabar dan yakin bahwa Tuhan telah menetapkan sosok pendamping terbaik.

percayakan semua pada Tuhan via doinhomedesign.webcam

Jodoh itu tak kemana. Sebuah kalimat sederhana yang memang benar adanya.
Alangkah lebih baik jika hal itu diyakini, agar hati ini tak lelah untuk mencari kesana-kemari. Tuhan itu Maha Adil. Ia telah menetapkan sosok terbaik yang nantinya akan mendampingi hingga akhir hari. Walaupun tidak hari ini atau esok, sosok itu pasti akan tiba pada waktu yang paling tepat dalam kehidupan yang cuma sekali ini.

Percayalah bahwa kesendirianmu itu pilihan. Yakin dan bersabarlah pada apa yang digariskan Tuhan. Cheers!

Jodoh dan soulmate adalah konsep absurd yang sering membuat orang galau. Apalagi, dalam masyarakat kita jodoh dan pernikahan seakan menentukan keberhasilan seseorang. Saat sudah mencapai umur yang dianggap siap untuk menikah, tidak jarang kamu dihampiri pertanyaan, “Mana calonnya?” dan “Kapan nikah?”

Dampaknya, banyak dari kita yang panik mencari saat merasa belum juga menemukan soulmate. Mulai dari minta dikenalkan teman, pasrah dijodohkan oleh orang tua, hingga ikut kontak jodoh di internet. Memang benar ya jodoh dan soulmate harus dicari? Tidak adakah cara lain untuk mendapatkannya? Hmm…memantaskan diri, misalnya?

Terus Fokus Mencari Soulmate Justru Akan Membuat Kita Lebih Rentan Tersakiti

Terus mencari pasangan sejiwa justru bisa membuat kita tersakiti via happilydivorcedandafter.com

Soulmate atau belahan jiwa jadi hal yang ingin didapatkan oleh hampir semua orang. Memang kedengarannya menyenangkan sih, saat kamu punya seseorang yang memahami dan selalu ada di sisimu.

Demi mendapatkan soulmate-nya tidak jarang orang akan rela mengorbankan banyak hal. Tapi pernahkah kita bertanya mengenai validitas konsep ini? Apakah benar ada individu lain yang akan benar-benar memahami kita sampai ke titik terdalam?

Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Experimental Psychology justru menunjukkan bahwa konsep soulmate sebenarnya hanya ilusi. Mempercayai konsep ini akan membuat seseorang tidak bisa menjalani hubungan romantis yang sedang dijalaninya dengan maksimal.

“Saat seseorang mempercayai bahwa pasangannya adalah pasangan jiwa dan mereka “tertakdirkan”, biasanya pasangan ini akan lebih tidak bahagia. Mereka juga akan menghadapi risiko lebih besar untuk berpisah.”

Menganggap pasanganmu sempurna adalah awal dari bencana via imgur.com

Ketika kita mempercayai konsep soulmate, kita akan rentan menganggap pasangan yang sedang bersama kita sebagai orang paling sempurna bagi kita. Dalam hubungan yang dianggap sudah “tertakdirkan”, akan tercipta pemahaman bahwa hubungan tersebut harus bebas dari konflik. Padahal, konflik adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah hubungan.

Dampaknya, setelah masa “bulan madu” lewat dan konflik mulai bermunculan, pasangan yang merasa sudah menemukan belahan jiwanya tersebut akan terkejut saat melihat ketidaksempurnaan pasangan.

“Ketika kenyataan dalam hubungan menunjukkan sebaliknya, maka pasangan jenis ini akan lebih tersakiti.”

Jika Diam Saja, Apakah Jodoh Akan Datang Sendiri?

Jika hanya diam, akankah dia datang? via thoughtcatalog.com

Lalu bagaimana dong agar kita bisa menemukan pendamping? Haruskah kita hanya duduk di rumah, diam dan berdoa sembari menunggu jodoh datang? Tentu tidak, dong. Sebenarnya proses menemukan jodoh itu tidak jauh berbeda dari pendakian gunung.

Demi mencapai puncak, kamu harus terus melangkahkan kaki. Akan ada berbagai jalan menanjak dan ranting besar yang harus dilewati. Kamu bisa memilih berhenti dan membalikkan badan untuk kembali atau terus memaksakan diri agar tetap melangkahkan kaki. Jika kamu memilih untuk terus berjalan, pelan-pelan puncak pasti terlihat di hadapan.

Hanya saja, ada cara lain yang lebih elegan dari sekedar mencari jodoh. Kamu tidak perlu heboh seperti anak ayam kehilangan induk hanya demi menemukan orang yang bisa mengisi hati. Nama cara ini adalah: memantaskan diri.

Alasan Kenapa Lebih Baik Kamu Fokus Memantaskan Diri:

1. Terkadang Jodoh Belum Datang Karena Kita Belum Selesai Dengan Diri Sendiri

Selesaikan dulu kewajiban dan kejarlah impianmu via melissacelestinekoh.wordpress.com

Kamu tidak jelek, pemikiran dan pengetahuanmu pun luas. Tapi hingga hari ini belum ada orang yang datang dan mengisi hati. Jika hal ini terjadi padamu, kamu perlu bertanya pada dirimu:

“Apakah aku benar-benar sudah selesai dengan diri sendiri?”

Terkadang kondisi pribadimulah yang menjadi halangan bagi orang-orang yang tepat untuk datang. Barangkali kamu belum lulus kuliah, atau masih ingin bertualang mencari pekerjaan yang paling tepat unt ukmu. Semua keinginan pribadi itu akan tercermin dalam perilaku dan kesiapanmu.

Daripada sibuk mencari, kenapa tidak berusaha menuntaskan keinginan dan impian pribadi terlebih dahulu? Selesaikanlah semua ambisi dan egoisme personalmu. Setelah urusan dengan dirimu sendiri benar-benar tuntas barulah kamu akan mampu menciptakan ruang untuk orang lain.

2. Meningkatkan Kualitas Diri Akan Membuatmu Lebih Menarik Dan Merasa Siap

Kamu akan lebih siap dan terlihat lebih menarik via sparselyvegetatedeyelashes.blogspot.com

Pernah gak kamu merasa tidak memiliki apapun untuk dibanggakan? Kamu tidak punya pencapaian, tidak ada gairah besar dalam dirimu yang benar-benar membuatmu merasa hidup. Saat kamu sedang berada dalam titik ini biasanya kepercayaan dirimu pun akan sedikit luntur.

Seseorang yang tahu benar apa yang ingin dikejarnya akan terlihat lebih menarik di mata orang lain. Ia yang fokus mengejar impiannya sudah mengerti apa yang harus dilakukan, orang macam apa yang layak mendampingi serta hubungan romantis macam apa yang harus dihindari.

Pribadi dengan visi yang jelas tentu tampak lebih menjanjikan dibanding orang yang masih belum tahu akan membawa hidupnya ke arah mana. Tidak hanya membuatmu lebih menarik di mata orang lain, fokus menambah kualitas diri juga akan membuatmu merasa lebih siap.

Kamu sudah tahu akan mengarahkan kemudi hidupmu, kini saatnya ada orang yang mendampingimu.

3. Saat Kamu Sudah Berada Di Jalur yang Tepat, Mereka yang Datang Juga Akan Lebih Tepat

Saat jalanmu sudah tepat, mereka yang datang juga akan lebih tepat via www.nanyangchronicle.ntu.edu.sg

Kamu sudah yakin sepenuh hati akan mengambil pendidikan Master di Jurusan Jurnalistik dengan spesifikasi Penulisan Kreatif. Untuk sementara waktu kamu melupakan urusan hati dan fokus pada pendidikanmu. Waktumu benar-benar kamu manfaatkan untuk belajar dan mengejar passion-mu.

Dengan perjuangan yang tidak ringan, kini hidupmu sudah berada di jalur yang selama ini kamu idamkan. Kamu sudah diterima di universitas dan jurusan idaman. Tidak hanya itu, ditengah kesibukan kuliah kamu juga bekerja di media lokal. Tulisanmu mulai muncul dan dibaca orang.

Selalu ada hal baik bagi orang-orang yang melakukan hal baik. Kamu yang sudah berusaha membawa hidup kearah yang lebih sesuai panggilan hati juga akan didatangi oleh mereka yang layak mendampingi. Tidak akan ada lagi orang-orang random yang mendekatimu.

Mereka yang datang di saat arah hidupmu sudah terang kemungkinan besar adalah orang yang juga punya arah hidup yang sama denganmu. Atau paling tidak, bersama dia kamu bisa berjalan beriringan mencapai impian.

4. Datang Disaat Kamu Sudah Siap Akan Membuatmu Lebih Terhormat

Datanglah saat kamu sudah siap, dengan terhormat via randyaprizaakbar.com

Buat para laki-laki yang galau karena masih belum punya pacar, ada baiknya kamu mengubah pola pikir. Daripada merana sepanjang hari karena merasa sepi, kenapa tidak kamu manfaatkan waktumu untuk memperbaiki diri? Seperti yang Hipwee jabarkan disini, di luar sana masih banyak kegiatan yang lebih bermanfaat dari sekedar pacaran, kok.

Datang ketika kamu sudah benar-benar siap akan membuatmu jadi pribadi terhormat yang memang layak diperhitungkan. Kamu tidak perlu membuang waktu mengejar gadis yang jual mahal terus itu. Tidak usah pula kamu habiskan rayuanmu untuk menjadikannya pacarmu.

Sumpah deh — lebih baik kamu ikut Muay Thai kek, gabung klub menulis, atau ikut komunitas film dokumenter. Gunakan waktu yang kamu miliki untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.

Ketika kelak kamu mendatangi gadis yang kamu sukai dengan perbekalan yang sudah lengkap, kamu tidak akan lagi dipandang sebelah mata. Dengan fokus memantaskan diri kamu juga akan merasa tidak harus bertaruh banyak saat kelak mendatangi dia yang membuatmu tertarik.

Toh kamu datang dengan kualitas yang oke, kalau ditolak ya dia yang rugi!

5. Meminta Pasangan Menerimamu Apa Adanya Adalah Hal yang Egois

Kalau kamu masih suka menuna, jangan kaget kalau dapat pasangan yang juga gemar menunda pekerjaan via www.nanyangchronicle.ntu.edu.sg

Share Tweet Pin
Kamu pasti tahu kan lirik Lagu Tulus yang ini?:

Jangan cintai aku apa adanya ooooh jangan. Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan kedepan.

Kalau belum tahu, silahkan cari albumnya. Murah kok, jangan download bajakan ya!.

Menjadi orang yang tidak mau meningkatkan kualitas diri adalah bentuk egoisme terhadap calon pasangan. Kamu ingin pasangan yang sempurna, sementara kamu sendiri tidak mau melakukan apapun untuk mencapainya. Ketika kelak akhirnya (kamu beruntung) pasanganmu yang “wow” itu datang, apa dia nggak kecewa lihat kamu yang nggak ada apa-apanya ini?

Punya keinginan kuat untuk terus memperbaiki diri juga jadi modal awal bagi langgengnya hubungan. Seseorang yang mau terus meningkatkan kualitasnya akan lebih mudah belajar beradaptasi dengan pasangannya kelak.

6. Bukankah Pada Akhirnya Jodoh Adalah Cerminan Diri?

Akhirnya jodoh adalah cerminan diri, kan? via nadiaikayanti.wordpress.com

Lihat deh ayah-ibu kita atau pasangan suami istri di sekelilingmu. Jika kamu mengamati dengan seksama, biasanya mereka adalah 2 pribadi yang mirip dalam pandangan hidup tapi punya sifat yang saling melengkapi. Begitu pula yang kemungkinan besar akan terjadi padamu.

Jodohmu adalah cerminan dirimu sendiri. Mereka yang datang tidak akan jauh-jauh dari upayamu memperbaiki diri selama ini. Kalau kamu mau dapat pasangan yang pintar masak, kamu harus fair dong! Langkahkan juga kakimu ke dapur dan belajarlah memasak.

Kalau kamu mau dapat pasangan yang cerdas dan gemar membaca, ya masa kamu mau cuma duduk diam sambil ongkang-ongkang kaki? Perbanyak juga referensimu soal bahan bacaan, agar kalian bisa hangat berbincang.

Dia yang “tertakdirkan” untukmu tidak akan jauh dari upayamu mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Tuhan tidak pernah main-main dengan janjinya.

Gimana? Masih mau galau dan heboh berusaha cari pacar, atau mau mulai memantaskan diri aja nih mulai sekarang?

Dalam tragedi Yunani kuno Hecuba, sang tokoh utama berubah jadi anjing karena tak mampu menanggung kesedihan sebagai manusia. “Hidup itu tak pernah pasti. Kita akan selalu bisa hancur oleh sesuatu yang tak mampu kita cegah,” terang guru saya dulu. “Itu resiko menjadi manusia. Kalau nggak tahan, ya jadi anjing saja.”

Kandasnya hubungan cinta adalah salah satu bukti betapa hidup tak pernah pasti. Orang yang semula selalu ada untuk kita kini lenyap begitu saja. Nggak ada lagi yang bisa diajak tertawa bareng, makan serakus-rakusnya bareng, menggila dan konyol bareng — atau sekadar menggenggam jemari satu sama lain dan menikmati sunyi.

Itulah kenapa putus cinta bisa sangat menyakitkan. Walau begitu, saat hati kita sudah terobati suatu hari, kita akan mampu mengerti hal-hal berikut ini:

1. Kamu akan tahu rasanya remuk redam, hidupmu timpang — hanya untuk menyadari kalau kamu tak boleh menyalahkan diri sendiri

Walau hancur kamu tak boleh menyalahkan diri via imagehip.com

Wajar untuk merasa kaget dan ganjil saat kita kembali single. Tapi, itu bukan alasan untuk terus mengasihani diri. Berpikir bahwa kita adalah korban, bahwa kita terlalu lemah menghadapi masa depan, tidak akan membantu menyembuhkan luka.

Mungkin saja bukannya kamu nggak percaya kalau lukamu bisa sembuh. Mungkin kamu cuma nggak mau sembuh — kamu ingin terus mencengkeram hati yang sudah keropos itu.

Sadarilah sekarang juga: ada sisi-sisi dirimu yang masih utuh dan fungsional. Sisi-sisi itu membuat masa depanmu pantas diperjuangkan.

2. Di tengah turbulensi hidup yang membuatmu terguncang, kamu akan tahu bahwa menjadi bahagia adalah pilihan

Ternyata bahagia adalah pilihan via imagehip.com

Kalau (seperti saya) kamu muak “dipaksa” berpikiran positif,

Dan kalau (seperti saya) kamu sering bikin orang jengkel dengan bertanya kenapa kita harus bahagia, atau kenapa kebahagiaan itu penting:

Menjadi bahagia itu bukan keharusan, tapi pilihan. Jadilah bahagia bukan karena itu penting, melainkan karena itu akan membantumu bertahan saat kamu merasa tidak penting.

3. Terkadang kamu justru malu saat sadar bahwa banyak hal yang sudah kamu lewatkan selama sibuk pacaran

Ternyata banyak momen hilang selama kalian terlalu sibuk pacaran via tumblr.com

Tahu ‘kan pasangan yang kemana-mana selalu berdua? Mungkin kamu dan (mantan) pacarmu adalah contohnya, cuma saja selama ini kamu nggak sadar. Kamu terlalu sibuk menghangatkan diri dalam gua yang dalam dan nyaman bersama dia.

Putus adalah momen di mana kamu terdepak keluar dari gua itu. Kamu menjejaki dunia yang sebenarnya lagi. Akan ada keterasingan yang kamu rasakan, tapi jangan gentar. Kamu harus merasa terasing untuk paham bahwa setiap orang — setiap orang — memiliki sesuatu yang membuat mereka pantas atas perhatian dan penghargaanmu.

4. Hatimu perlahan melewati proses transisi. Cinta ternyata bisa diberikan pada saja. Tanpa kekasih pun kamu tak harus merasa kekurangan cinta

Agape, cinta terhadap kemanusiaan via weheartit.com

Sastra Yunani Kuno mengenal beberapa kata untuk cinta. Eros untuk cinta yang berlandaskan hasrat. Philia untuk cinta kepada keluarga dan teman. Agape untuk kesediaan berkorban kepada kemanusiaan dan Tuhan.

Lihat, ‘kan? Cinta itu nggak cuma eros. Seberapa menyakitkan pun akhir hubungan romantis kita, seberapa lecet pun hati yang sekarang kita punya, bukan berarti kita kehilangan kemampuan mencintai kita.

5. Saat menilik lagi hubungan yang sudah kamu lalui, kamu akan mengerti bahwa cinta selalu sepaket dengan kerelaan untuk berkorban tanpa henti

Cinta itu Brutal via www.youtube.com

Kita akan mulai memahami bahwa cinta nggak cuma soal hal yang indah-indah saja. Cinta antara dua orang nggak mungkin bertahan tanpa usaha terus-menerus — usaha yang kadang melelahkan dan selalu membutuhkan partisipasi dua orang.

6. Kamu akan gatal mencari pelampiasan sementara. Padahal sisi dirimu tahu bahwa aksimu sama sekali tak dewasa

Mencari Pelampiasan Sementara = Tidak Dewasa via 37.media.tumblr.com

Kamu akan gatal menambal rasa hampa di hatimu dengan mendekati orang baru. Ssssst….sebenarnya kamu nggak tertarik dengan orang itu — kamu cuma nggak tahan sendirian dan takut merasa kesepian.

Kamu tahu bagaimana kisah ini akan berakhir. Orang yang jadi pelampiasan sementaramu akan sakit hati karena dibohongi, sedangkan kamu akan merasa lebih hampa dari semula.

7. Di tengah kacau balaunya hidup, kamu akan mencari kekuatan besar di luar diri yang bisa jadi pegangan

“We must imagine Sisyphus happy.” via www.foundrycoffee.com

Kalau kamu percaya takdir, kamu harus mulai berbaik sangka pada Tuhan dan alam raya. Percayalah bahwa mereka telah menyimpan rencana yang sempurna untukmu.

Kalau kamu tidak percaya, ingat-ingatlah kisah Sisyphus — yang dikutuk para dewa untuk mengangkat batu sampai atas bukit, hanya untuk mendapatkan batu itu kembali ke dasar bumi. Begitu terus selama-lamanya.

Intinya, bahkan jika perjuangan itu berakhir percuma, yang terpenting adalah fakta bahwa kamu berusaha.

“The struggle itself … is enough to fill a man’s heart. We must imagine Sisyphus happy.” – Albert Camus

8. …Dan itulah bagaimana kamu bisa mulai mempercayai diri sendiri lagi

Belajar percaya diri lagi via whateverworks.fr

Mempercayai sesuatu yang lebih besar dari kamu adalah sama dengan mencari makna hidup. Dengan kehidupan yang lebih bermakna, kamu mulai bisa mempercayai dirimu sendiri dan usahamu.

Kamu juga akan sadar bahwa seberapa sakit hati pun kamu, musik kesukaanmu akan tetap enak didengar. Tempat bakso favoritmu tetap jualan dan dagingnya tetap enak. Teman-temanmu tetap mencintaimu. Keluargamu tetap ngotot mau merangkulmu. Segalanya akan baik-baik saja.

9. Perlahan justru timbul rasa heran, “Kenapa dulu kamu bisa jatuh hati padanya?”

Heran kenapa kamu bisa cinta padanya via eltoron.com

Ketika lukamu mulai sembuh, nostalgia akan membuatmu terpana: apa sih yang dulu membuatmu jatuh hati?

Ini karena kamu tak lagi memandang masa lalu melalui kaca pembesar merah jambu. Sekarang, kamu mampu melihat segalanya dengan warna-warna yang apa adanya.

Kamu akan keheranan kenapa dulu kamu tak mampu melihat warna-warna itu.

10. Bahkan kamu bisa bengong dan cekikikan sendiri saat melongok rentetan pengorbanan yang pernah rela kamu lakukan demi dia

Memasak: hal yang akan kamu lakukan demi dia via life-with-one-direction.tumblr.com

Masih ingat waktu kamu begadang untuk bantu dia mengerjakan tugas kuliah? Waktu kamu memanjangkan rambut karena dia nggak suka cewek berambut pendek? Waktu kamu, yang nggak bisa masak, membeli buku resep makanan demi menghidangkan risotto untuknya?

Jangan pernah lupakan momen-momen itu. Mereka adalah bukti bahwa kamu pernah sungguh mencintai seseorang.

Hey, at least it was cute.

11. Seiring waktu kesendirianmu tidak lagi terasa menakutkan. Rasa sepi itu mulai berubah jadi nyaman

Memang lebih baik sendiri via 37.media.tumblr.com

Kamu akan mulai terbiasa sendiri, dan kamu akan paham kalau sendirian tak harus berarti kesepian.

Setelah kamu putus, kamu semakin sibuk dengan pekerjaan ataupun lingkaran sosialmu yang lain. Kamu pun mulai mengakrabi hal-hal baru, yang sebelumnya tak pernah terbayangkan bisa menyenangkanmu.

Lalu kamu mulai mengenang pertengkaran waktu kamu pacaran dulu. Alasan kalian bertengkar kini terasa absurd. Kalian memang dua orang yang begitu bertentangan, dan kamu senang kalian berdua cukup pintar untuk mengakhiri hubungan kalian itu.

12. Hubunganmu dengan mantan? You can be friendly, but not friends, with them

Kamu bisa tetap ramah, tapi kamu tak bisa jadi teman via www.wowkeren.com

Karena dunia kalian beririsan atau memang takdir yang menentukan, kamu pun bersua lagi dengannya. Kamu tersenyum, menanyakan kabarnya, mengangguk sopan, lalu pamit pulang.

Kamu mampu ramah padanya karena sudah bisa menerima bahwa dia lebih dari sekadar coreng pada nasibmu, atau pisau yang mencolok-colok matamu. Namun tetap saja, mustahil bagimu untuk “berteman biasa” dengannya.

Mungkin karena kamu telah merasakan betapa normal dan biasa saja hidup tanpa dia. Sementara itu, kalau kamu mau menjadikannya teman, kamu akan perlu usaha ekstra dan menyesuaikan diri lagi.

13. Suatu hari kamu akan bangun dan mengerti. Patah hati yang sesungguhnya justru muncul ketika perasaanmu sudah hilang sama sekali

Patah hati yang sebenarnya itu waktu perasaanmu lenyap sama sekali via 24.media.tumblr.com

Kamu bangun di pagi hari dan nggak ada dorongan ingin mengecek Twitter atau Facebook-nya. Ketika kamu terjaga di malam hari, yang kamu pikirkan juga bukan lagi dia.

Di hatimu, tidak ada penyesalan. Tidak ada kemarahan. Tidak ada bilur.

Tidak ada juga sisa rasa hangat saat mendengar namanya. Di hatimu, tidak ada apapun.

Dan itulah patah hati yang sebenarnya. Kamu dihadapkan pada curiga dan ribuan tanda tanya: jika cinta yang kuat pun akhirnya bisa mati…bagaimana nasibnya hubungan-hubungan yang lain, yang “biasa-biasa saja”, yang tak dilandasi rasa sekuat dan setulus itu?

14. Akhirnya dorongan untuk move on muncul dalam diri. Gembok hatimu sudah ditemukan lagi. Kamu mulai mau membuka diri

Kamu akan mulai move on dan membuka hati via 8tracks.imgix.net

Setelah sakitmu pudar, yang akan kamu rasakan adalah kenyamanan melakukan segalanya sendirian. Kemudian, tanpa terencana, kamu akan kembali jatuh cinta. Kali ini dengan orang yang sama sekali berbeda.

Mulanya kamu akan bersikap defensif dan menarik diri. Kamu akan dibingungkan oleh perasaanmu sendiri. Kamu akan bertanya dalam hati: “Siapa dia, kenapa aku, dan berapa banyak dari jiwanya yang akan rela ia curahkan?”

Namun, kamu akan belajar perlahan-lahan untuk mengabaikan segala curiga dan ragu. Kamu menatap lekat orang yang baru itu, dan tahu ia berhak kamu beri kesempatan.

Semuanya baik-baik saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar