Kamis, 14 April 2016

Mati.

Aku Bosan HidupPertanyaan:Assalamu’alaikum.Pak Ustadz, saya mohon bantuannya. Saya berislam sejak 26 tahun lalu sejak dilahirkan, saya mengikuti ajaran orang tua. Dan setahun ini saya baru mempelajari apa ajaran tauhid itu dan mungkin saya sangat senang mempelajarinya membuat hati saya damai. Pertanyaan demi pertanyaan bathin saya tentang ketidaktahuan sayaberislam terjawab dengan sendirinya dengan cara itu Allah membuka pikiran dan hati saya.Tapi sejak 2 bulan ini, ketika untuk memutuskan mendalami ajaran tauhid dan fikih sepertinya saya sudah pikir matang-matang apa yang terjadi pada diri saya selama sebulanan ini tidak merasakan manisnya hidup di dunia ini.Segala kemewahan di sekitar saya tidaklagi menarik bagi saya. Entah apa yang terjadi dengan saya, seolah-olah dunia ini tidak menarik lagi bagi saya beserta isinya. Kasih sayang orang tua, pekerjaan, teman, barang-batang yang dulu saya idam-idamkan tidak lagi menarik perhatian saya lagi, bahkan kekasih saya pun tidak luput atas ketidaksenangan saya untuk terus hidup di dunia ini.Saya shalat dari kecil insya Allah 5 waktu walaupun yang mengajarkan saya berislam tidak lagi konsisten dengan ajaran yang mereka ajarkan saya tetap shalat.Entah saya ini tergolong stress atau depresi dalam golongan inipun masih ada yang mereka senangi, tetapi saya tidak sama sekali. Saya lebih senang dengan ilmu-ilmu yang saya dapat; apa itu pelajaran dasar tauhid dan fikih. Tapimasih di hati kecil saya bertanya-tanya untuk apa saya hidup di dunia ini. Sepertinya saya pun tidak memberikan manfaat bagi sekeliling saya. Semua orang yang saya temui lebih banyak yang saya tidak sukai dari pada yang saya sukai.Saya benar-benar bingung kenapasayabenar-benar bosan sekali hidup di duniaini. Bertanya sana-sini tidak memberikan semangat hidup lagi.Bisakah Pak Ustad membantu saya memberikan jawaban. Saya harus bagaimana? Demi Allah hidup ini tidak nyaman lagi bagi saya seperti 26 tahun lalu.Untuk apa sebenarnya dihidupkan di dunia ini Pak Ustad?Terima kasih Pak Ustad. Mohon bantuannya. Kiranya memberikan penyejuk hati saya.Dari: AlycelistJawaban:Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,Pertama, bagi seorang mukmin, usia yang panjang, yang dipenuhi amal shaleh, lebih baik dari pada kematian. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallambersbda,خير الناس من طال عمره وحسن عمله“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang usianya, dan baik amalnya.” (HR. Ahmad, Turmudzi dan dishahihkan al-Albani)Dalam riwayat yang lain, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,طوبى لمن طال عمره وحسن عمله“Sungguh beruntung orang yang panjang usianya dan baik amalnya.” (HR. Thabrani, Abu Nuaim, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Jami As-Shaghir).Kemudian, dalam hadis Abu Hurairah, beliau menceritakan bahwa ada 2 orangbersamaan yang masuk Islam di hadapan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yg pertama mati syahid, sementara yang kedua mati tahun depan. Suatu ketika Thalhah bin Ubaidillah bermimpi melihat surga, dia melihat, ternyata sahabat yang mati belakangan, justru masuk surga lebih dulu sebelum yang mati syahid. Diapun terheran, pagi harinya dia menceritakan kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun bersabda,أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ! وَصَلَّى سِتَّةَ آلافِ رَكْعَةٍ أَوْ كَذَا وَكَذَا رَكْعَةً! صَلاةَ السَّنَةِ“Bukankah sahabat yang kedua telah melakukan puasa Ramadhan, shalat sebanyak 6 ribu rakaat atau sekian rakaat shalat sunah.” (HR. Ahmad. Syuaib al-Arnauth mengatakan: Sanadnya hasan. Hadis ini juga dishahihkan dalam kitabSilsilah ash-Shahihahno. 2591).Ath-Thibi mengatakan,إِنَّ الأَوْقَاتِ وَالسَّاعَاتِ كَرَأْسِ الْمَالِ لِلتَّاجِرِ فَيَنْبَغِي أَنْيَتَّجِرَ فِيمَا يَرْبَحُ فِيهِ وَكُلَّمَا كَانَ رَأْسُ مَالِهِ كَثِيرًا كَانَ الرِّبْحُ أَكْثَرَ , فَمَنْ اِنْتَفَعَ مِنْ عُمُرِهِ بِأَنْ حَسُنَ عَمَلُهُ فَقَدْ فَازَ وَأَفْلَحَ , وَمَنْ أَضَاعَ رَأْسَ مَالِهِ لَمْ يَرْبَحْ وَخَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًاSesungguhnya waktu dan usia ibarat modal bagi pedagang. Selayaknya dia perdagangkan untuk mendapatkan untung besar. Semakin banyak modal yang digunakan, semakin besar peluang mendapatkan kuntungan. Karena itu, siapa yang memanfaatan usianya dengan  baik, dengan melakukan amal baik, berarti dia orang yang sukses dan untung besar. Sebaliknya, siapa yang menyia-nyiakan modalnya, dia tidak akan mendapatkan keuntungan, sebaliknya, justru mendapatkan kerugian yang besar.Betapa besarnya nilai waktu bagi ulama, suatu keika ada seorang ulama mendengar orang yang bosan hidup. Dia mengatakn: “Lebih baik aku mati.” Spontan sang ulama mengatakan,يا ابن أخي، لا تفعل، لساعة تعيش فيها تستغفر الله، خير لك من موت الدهر“Wahai saudaraku, jangan kamu lakukan itu. Sesaat usia hidupmu yang kau gunakan untuk beristighfar kepada Allah, lebih baik untukmu dari pada kematian.”Di lain kesempatan, ada seorang ulama tua yang dianya: ‘Apakah Anda mengharapkan kematian?’ beliau menjawab,لا، قد ذهب الشباب وشره، وجاء الكبر وخيره، فإذا قمت قلت: بسم الله، وإذا قعدت قلت:الحمد لله، فأنا أحب أن يبقى هذا!Tidak, usia mudaku telah berlalu bersama kenangan buruknya. Sekarangtinggal usia tua beriring dengan kebaikan. Setiap aku berdiri, aku mengucapkan, ‘bismillah’, setiap aku duduk, aku mengucapkan, ‘alhamdulillah’. Saya ingin hidup seperti ini lebih lama.Banyak ulama masa silam yang menangis ketika menghadapi kematian,merasa sedih karena terputusnya amal shalehnya. Karena itulah, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallammelarang umatnya untuk berangan-angan mati. Karena kematian memutus seorang mukmin untuk mendapatkan kebaikan amal ketaatan, kelezakatan ibadah, dan kesempatan untuk bertaubat.Dri abu Hurairah, Nabishallallahu ‘alaihiwa sallambersabda,لا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ , وَلا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ، إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ انْقَطَعَ عَمَلُهُ، وَإِنَّهُ لا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلا خَيْرًا“Janganlah kalian berangan-angan mati, jangan pula berdoa untuk mendapat kematian sebelum waktunya.Karena ketika seseorang mati maka amalnya akan terputus. Karena usia setiap muslim pasti menambah kebaikan.” (HR. Muslim 2682)Pada hadis di atas, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallammenggabungkan dua larangan, antara berangan-angan mati dan larangan berdoa memohon kmatian.Dalam lafal yang lain,لا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ، إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ“Janganlah kalian berangan-angan mati. Karena bisa jadi dia orang baik, sehingga kebaikannya bertambah. Ataudia orang buruk, sehingga bisa jadi dia mendapat ridha Alah (dengan bertaubat).” (HR. Bukhari 7235)An-Nawawi mengatakan,فِي الْحَدِيث التَّصْرِيح بِكَرَاهَةِ تَمَنِّي الْمَوْت لِضُرٍّنَزَلَ بِهِ مِنْ فَاقَة، أَوْ مِحْنَة بِعَدُوٍّ، وَنَحْوه مِنْ مَشَاقّ الدُّنْيَا , فَأَمَّا إِذَا خَافَ ضَرَرًا أَوْ فِتْنَة فِي دِينه فَلا كَرَاهَة فِيهِ لِمَفْهُومِ هَذَا الْحَدِيث , وَقَدْ فَعَلَهُ خَلَائِق مِنْ السَّلَفHadis di atas dengan tegas menunjukkan dibencinya berangan-angan mati karena bencana yang di terima, baik berupa kemiskinan, ujian karena musuh, atau kesulitan dunia lainnya. Sementara jika dia khawatir dengan ancaman keselamatan agamanya maka tidak dibenci untuk meminta kematian, berdasarkan kandungan makna hadis. Hal ini juga dilakukan sebagian ulama salaf.Disamping itu, ada sisi lain yang perlu dipertimbangkan, dahsyatnya sakaratul maut terkadang membuat orang menyesali permintaannya. Bahkan ini pernah dialami oleh orang shaleh masa silam.Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,وقد كان كثير من الصالحين يتمنى الموت في صحته، فلما نزل به كرهه لشدته، ومنهم أبو الدرداء وسفيان الثوري، فما الظن بغيرهماDulu banyak orang shaleh yang berangan-angan mati ketika dia masih sehat. Ketika mereka mendapatkn kematian, timbul rasa tidak karena beratnya sakaratul maut. Diantara mereka adalah Abu Darda, Sufyan Ats-Tsauri. Apa yg bisa anda bayangkan dengan orang selain mereka.Allahu a’lamDijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Nikmati.

It's better this way than not at all.
Istirahat.

Have you ever imagine that you ara gonna die ?

Hese neang gaweteh.

Sesungguhnya begitu kita tahu kita akan mati, kita akan belajar tentang bagaimana kita harus hidup.

Menikmati HidupBagian kedua.“Nikmatilah hidup selama Anda masih memilikinya dan terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu! Karena Anda tidak akan tahu kapan Sang Pemilik Raga akan datang dan mengatakan pada Anda, “Ini saatnya pulang!”—memaksa Anda meninggalkan apa pun yang Anda cintai, dan Anda banggakan, serta sombongkan.” (Bob Sadino)Bersyukur di Setiap Keadaan. Setelah menikmati hidup, kita belajar bersyukur di setiap keadaan. Bersyukur dalam keadaan kelapangan hidup, bersyukur dalam keadaan kesempitan hidup, bersyukur ketika bahagia, bersyukur ketika sedih, dan sebagainya. Bukankah kalau kita bersyukurkita akan ditambah nikmat kita? Manusia tempatnya lupa, makanya kita harus selalu belajar untuk bersyukur di setiap keadaan.Mengingat Mati. Selama kita menikmati hidup dengan benar dan selalu belajar bersyukur serta selalu bersyukur di setiap keadaan, hendaknya kita selalu mengingat mati. Kita tidak tahu kapan kita mati, tidak sedikit manusia mati di umur yang muda. Harta, maupun tahta tidak akan terbawa oleh kita ketika kita telahtelah “dipanggil” olehNya. Hanya amalan dan dosa yang kitabawa mati di alam kubur. Harta dan apa apa yang kita cintai tidaklah bisa kita bawa ketika kita mati.Itulah yang bisa kita petik dan hikmah dari wejangan Bob Sadino. Kita harus selalu siap ketika malaikat pencabut nyawa berkata, ” Ini saatnya pulang!” dengan amalan kita yang mengiringinya.

atian merupakan persinggahan pertama manusia di alam akhirat. Al Qurthubiy berkata dalam At Tadzkirah, “Kematian ialah terputusnya hubungan antara ruh dengan badan, berpisahnya kaitan antara keduanya, bergantinya kondisi, dan berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya.” Yang dimaksud dengan kematian dalam pembahasan berikut ini adalah al maut al kubra, sedangkan al maut ash shughra sebagaimana dimaksud oleh para ulama, ialah tidur. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az Zumar : 42)[1]

Orang yang Cerdas

Orang yang cerdas adalah orang yang tahu persis tujuan hidupnya. Kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya demi tujuan tersebut. Maka, jika akhir kesempatan bagi manusia untuk beramal adalah kematian, mengapa orang-orang yang cerdas tidak mempersiapkannya?

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)[2]

Pemutus Segala Kelezatan

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albaniy dalam Shahih An Nasa’iy 2/393 berkata : “hadits hasan shahih”)

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaly hafizhahullah menjelaskan perihal hadits di atas, “Dianjurkan bagi setiap muslim, baik yang sehat maupun yang sedang sakit, untuk mengingat kematian dengan hati dan lisannya. Kemudian memperbanyak hal tersebut, karena dzikrul maut (mengingat mati) dapat menghalangi dari berbuat maksiat, dan mendorong untuk berbuat ketaatan. Hal ini dikarenakan kematian merupakan pemutus kelezatan. Mengingat kematian juga akan melapangkan hati di kala sempit, dan mempersempit hati di kala lapang. Oleh karena itu, dianjurkan untuk senantiasa dan terus menerus mengingat kematian.”[3]

Dan Merekapun Ingin Kembali

Sebaliknya orang-orang yang semasa hidupnya sangat sedikit mengingat mati, dari kalangan orang-orang kafir dan mereka yang tidak menaati seruan para Rasul, akan meminta tangguh dan udzur ketika bertemu dengan Rabb mereka kelak di akhirat. Inilah penyesalan yang paling mendalam bagi manusia yang tidak mengingat kematian.

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzalim: “Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (QS. Ibrahim : 44)

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang shaleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun : 10-11)

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “ Wahai Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (QS. Al Mu’minun : 99-100)[4]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy berkata mengenai ayat dalam Surat Al Mu’minun, “Allah Ta’ala mengabarkan keadaan orang-orang yang berhadapan dengan kematian, dari kalangan mufrithin (orang-orang yang bersikap meremehkan perintah Allah -pent) dan orang-orang yang zhalim. Mereka menyesal dengan kondisinya ketika melihat harta mereka, buruknya amalan mereka, hingga mereka meminta untuk kembali ke dunia. Bukan untuk bersenang-senang dengan kelezatannya, atau memenuhi syahwat mereka. Akan tetapi mereka berkata, ‘Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” Beliau kembali menjelaskan, “Apa yang mereka perbuat tidaklah bermanfaat sama sekali, melainkan hanya ada kerugian dan penyesalan. Pun perkataan mereka bukanlah perkataan yang jujur, jika seandainya mereka dikembalikan lagi ke dunia, niscaya mereka akan kembali melanggar perintah Allah.”[5]

Pendekkan Angan-Anganmu!

Sikap panjang angan-angan akan membuat seseorang malas beramal, mengira hidup dan umur mereka panjang sehingga menunda-nunda dalam beramal shalih.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu beliau berkata, “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membuat segi empat, kemudian membuat garis panjang hingga keluar dari persegi tersebut, dan membuat garis-garis kecil dari samping menuju ke tengah. Kemudian beliau berkata, ‘Inilah manusia, dan garis yang mengelilingi ini adalah ajalnya, dan garis yang keluar ini adalah angan-angannya. Garis-garis kecil ini adalah musibah dalam hidupnya, jika ia lolos dari ini, ia akan ditimpa dengan ini, jika ia lolos dari ini, ia akan ditimpa dengan ini.” (HR. Bukhari, lihat Fathul Bari I/236-235)

Dari Anas beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap anak Adam akan menjadi tua dan hanya tersisa darinya dua hal: ambisi dan angan-angannya”[6]

Oleh karena itu, di antara bentuk dzikrul maut adalah memperpendek angan-angan, dan tidak menunda-nunda dalam beramal shalih.

Dari Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhuma ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam pernah memegang pundak kedua pundakku seraya bersabda : “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “. Ibnu Umar berkata : “Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu”. (HR. Al-Bukhari, lihat Al Fath I/233)

Faktor-Faktor yang Dapat Mengingatkan Kematian

[1] Ziarah kubur, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berziarah kuburlah kalian sesungguhnya itu akan mengingatkan kalian pada akhirat” (HR. Ahmad dan Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani)[7]

[2] mengunjungi mayit ketika dimandikan dan melihat proses pemandiannya

[3] menyaksikan proses sakaratul maut dan membantu mentalqin

[4] mengantar jenazah, menyolatkan, dan ikut menguburkannya

[5] membaca Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang mengingatkan kepada kematian dan sakaratul maut. Seperti firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya” (QS. Qaaf : 19)

[6] merenungkan uban dan penyakit yang diderita, karena keduanya merupakan utusan malaikat maut kepada seorang hamba

[7] merenungkan ayat-ayat kauniyah yang telah disebutkan Allah Ta’ala sebagai pengingat bagi hamba-hambaNya kepada kematian. Seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, badai, dan sebagainya

[8] menelaah kisah-kisah orang maupun kaum terdahulu ketika menghadapi kematian, dan kaum yang didatangkan bala’ atas mereka

Faidah Mengingat Kematian

Di antara faidah mengingat kematian adalah : [1] memotivasi untuk mempersiapkan diri sebelum terjadinya kematian; [2] memendekkan angan-angan, karena panjang angan-angan merupakan sebab utama kelalaian; [3] menjadikan sikap zuhud terhadap dunia, dan ridha dengan bagian dunia yang telah diraih walaupun sedikit; [4] sebagai motivasi berbuat ketaatan; [5] sebagai penghibur seorang hamba tatkala memperoleh musibah dunia; [6] mencegah dari berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam menikmati kelezatan dunia; [7] memotivasi untuk segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat; [8] melembutkan hati dan mengalirkan air mata, mendorong semangat untuk beragama, dan mengekang hawa nafsu; [9] menjadikan diri tawadhu’ dan menjauhkan dari sikap sombong dan zhalim dan; [10] memotivasi untuk saling memaafkan dan menerima udzur saudaranya.[8]

Penulis: Yhouga AM

Artikel www.muslim.or.id

Apakah Anda saat ini sedang mengalami motivasi yang sangat rendah? Tidak ada semangat dalam diri Anda untuk melakukan satu kegiatan. Rendahnya gairah atas pekerjaan Anda, bahkan impian Andapun tidak bisa memotivasi untuk lebih bersemangat. Anda rasanya mengalami motivasi rendah tingkat tinggi.Ini dialami oleh banyak orang di mana saja. Motivasi yang rendah bisa disebabkan oleh kondisi, situasi atau orang lain. Tidak masalah, akan selalu ada cara untuk mengatasinya bila Anda mau untuk membuka diri dan melakukan cara yang Anda temukan untuk memotivasi diri.Banyak orang kehilangan energi besar saat mereka menghadapi masalah. Efek dari masalah bisa membuat mereka marah, kesal, putus asa, stres dan tidak tertantang untuk mengatasi masalahnya. Dan yang paling buruk adalah, hilangnya motivasi diri. Ini satu daya yang paling membahayakan.Bila saat ini Anda mengalaminya, ini wajar terjadi, karena hidup pun tidak selalu berjalan dengan mulus. Pasti ada pasang surut yang harus kita semua alami. Cara Anda menyikapi dan memaknai dengan lebih bijaksana tanpa melibatkan emosi pada buah pikir yang bisa menimbulkan emosi negatif adalah sikap yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah Anda.Itulah  sikap yang dibutuhkan untuk bisa memotivasi diri. Bila Anda sudah melakukan banyak usaha untuk memotivasi diri, tetapi Anda tetap tidak bisa mempertahankan motivasi diri dengan baik dan konsisten. Motivasi yang Anda rasakan selalu naik turun dan lebih lama turunnya, maka Anda perlu carayang tidak banyak orang ketahui dan lakukan. Inilah cara yang ingin saya bagikan kepada Anda. Memotivasi diri dengan cara yang berbeda yang berasal dari dalam diri Anda, yang akan meningkatkan motivasi bahkan mengubah hidup Anda.Tidak Ada TujuanSalah satu penyebab rendahnya motivasi adalah tidak adanya tujuan yang bermakna yang ingin dicapai. Tujuan dapat di bagi dua. Tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek adalah tujuan yang ditetapkan untuk waktu satu tahun kedepan. Tujuan jangka panjang adalah tujuan yang ditetapkan selama lima sampai sepuluh tahun kedepan. Tujuan jangka panjang lebih terarah mengenai apa yang ingin dilakukan untuk waktu yang lama di masa depan.Pada umumnya orang hanya memiliki tujuan jangka pendek untuk dicapai. Setelah mereka mencapai apa yang mereka inginkan, mereka menikmati pencapaiannya yang telah diraih dan pada satu titik tertentu, mereka merasa tidak tertantang lagi untuk melakukan hal yang sama dalam waktu yang lama. Bahkan tidak jarang  mereka kehilangan arah.Contoh nyata adalah saat seorang pencari kerja mendapatkan pekerjaan di tempat baru. Setelah mendapatkan pekerjaan, posisi dan penghasilan yang diharapkan, mereka akan berhenti di tempat dan melakukan rutinitas yang sama dalam waktu yang lama. Pikiran mempersepsikan bahwa tujuan telahtercapai. Misi selesai. Untuk membuat Anda lebih termotivasi, buatlah impian baru atau mengupdate impian yang telah ada untuk dicapai di masa depan.Selain dari itu, tujuan yang mereka tetapkan tidak bermakna dan bukan yang mereka inginkan terjadi dalam hidup mereka sehingga tidak ada gairah yang besar yang bisa menggetakkan mereka mencapai tujuan mereka. Tujuan yang mereka capai adalah tujuan dari orang lain. Orangtua, teman, pasangan atau atas cerita orang lain bahwa yang mereka capai bisa menghasilkan uang dan memberikan mereka kebahagian. Pada akhirnya mereka tidak memiliki motivasi yang besar untuk mencapainya meskipun telah melakukan segala cara untuk memotivasi diri. Hal ini disebabakan karena motivasi mereka berasal dari luar diri mereka bukan dari dalam dirimereka.Inilah alasan mengapa seseorang tidak memiliki motivasi yang tinggi dalam hidup. Mereka tidak memiliki tujuan yang bermakna yang ingin diraih dalam hidup. Motivasi yang mereka miliki berasal dari luar diri bukan dari dalam diri. Selain itu, program dalam diri juga sangat mempengaruhi seseorang dalam memiliki motivasi yang baik. Ini adalah faktor kedua mengapa seseorang memiliki motivasi yang rendah.Program DiriProgram diri adalah apa yang tertanam di dalam diri kita yang kita percayai dan yakini sepenuh hati. Program dirilah yang menggerakkan kita melakukan sesuatu dengan antusias atau tidak. Program diri ada dua jenis. Program diri yang mendukung dan program diri yang menghambat kita mencapai apa yang kita inginkan dalam hidup. Tidak ada program diri yang baik danburuk, positif atau negatif.Contoh program diri yang mendukung adalah “saya percaya diri, saya berharga, saya adalah pembelajar yang cepat, saya pintar, saya orang kaya”  dan masih banyak kepercayaan lainnya. Contoh dari program diri yang menghambat “saya tidak percaya diri, saya mudah marah, saya sulit untuk berubah, saya bodoh, saya tidak suka lingkungan baru, saya takut ular, orang kaya adalah orang jahat”dll.Banyaknya program diri yang menghambat membuat seseorang mudah memiliki motivasi diri yang rendah saat mencapai proses apa yang mereka inginkan dalam hidup. Ketika mereka dihadapkan pada satumasalah yang tidak bisa mereka atasi akan membuat mereka mudah menyerah atau lari dari masalah.Satu pengalaman teman saya, saat dia dipanggil untuk interview ternyata si pewawancara memberi tahu semua kelemahan dan kekurangan teman saya sehingga dia tidak bisa diterima bekerja di perusahaan yang dia lamar. Setibanya di rumah, dia bercerita dengan emosi yang tinggi karena menganggap yang disampaiakan oleh si pewawancara tidak benar. Masukan yang diberikan membuat dia menjadi tidak termotivasi, bukanya belajar dari pengalaman yang dialaminya.Teman saya ini memang tidak suka dikritik, bila dikritik maka siap-siaplahuntuk berperang mulut. Dalam beberapa hari dia berada dalammoodyang kurang baik. Inilah bentuk dari program diri yang menghambat. Program diri menentukan seseorang memiliki motivasi tinggi atau rendah. Jika Anda memiliki program diri yang mendukung, maka Anda akan memiliki motivasi tinggi dalam menjalani hidup.Untuk mengatasi motivasi yang rendah saat ini beserta dengan meningkatkan program diri yang menghambat menjadi program diri yang mendukung, saya akan memberikan solusi yang bisa Anda terapakan sebentar lagi.Seperti Apa Anda Ingin Dikenang?Sesungguhnya begitu kita tahu kita akan mati, kita akan belajar tentang bagaimana kita harus hidup.Mitch AlbomBila sekarang Anda memiliki motivasi yang rendah, berarti rendahlah harapan Anda terhadap hidup. Satu cara untuk mengatasinya adalah membayangkan Anda telah meninggal dan terbaring di peti mati atau dibungkus dengan  kain kafan yang sedang ditangisi oleh orang yang sangat Anda cintai, orantua, pasangan, anak, teman dan rekan bisnis.Coba dengarkan apa yang akan mereka sampaikan kepada Anda. Apakah Anda ingin mendengarkan mereka memberi penghargaan dan pujian atas semua kebaikan yang telah Anda lakukan untuk orang yangAnda sayangi dan lingkungan tempattinggal Anda, mengharapakan Anda bisa lebih lama tinggal di bumi untuk melakukan kebaikan bersama yang belum terealisasi atau malah sebaliknya, mereka menginginkan Anda untuk lebih cepat “dibungkus” agar mengurai beban kesusahan hidup mereka. Lakukanlah kebaikan untuk orang yang Anda sayangi dan cintai.Kematian adalah satu cara yang sangat efektif untuk memotivasi diri menjalani hidup yang lebih bermakna. Kematian akan menyadarkan seseorang bahwa kita diberi kenikmatan hidup. Dengan begitu akan membuat Anda mau menjalani hidup dengan melakukan apa yang benar-banar Anda inginkan dalam hidup. Programyang menghambat diri Anda akan berubah dengan perlahan untuk mendukung diri Anda menjadi yang terbaik.Inilah salah satu cara ampuh yang bisa Anda gunakan untuk meningkatkan motivasi diri. Karena kematian, secara halus berpotensi membuat seseorang menjalani hidup lebih baik. Selamat mencoba, semoga Anda menemukan apa yangingin Anda capai dalam hidup, yang membuat api semangat berkobar dari dalam diri Anda. Tapi, jangan meninggalkan halaman ini tanpa meninggalkan komentar.

Aquarius learning.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar