Kamis, 15 Desember 2016

Resign.

nya gs ath pan
ke ngalamaran deui jeng abi

Lila ka lilaanmah kesel .

Mun t d gawe rek naon ?

Banyak aspek .
Worth it, nggak ?

Terus mnh hyngna bulan puasa ngajedog di imah ?

Tidak melakukan apa - apa .

Bebas, kita yg menstrukturkan, sisi positif .

Useless, i don't know what to do anymore .

Digaji tinggi juga belum tentu kedapat semua, ada resiko uang dan barang hilang . Serta perasaan tertekan akan target yang ada . Kamu tidak bisa selamanya kerja di saybread .

Jangan merasa bersalah .

Masa pencarian ini memang sudah seharusnya, bukan berapa lama adanya saybread, tp brp lama lg kamu ...

Membandingkan, lebih baik lebih buruk, masalahna saybreadna aya kneh teu ? Aya 😥 jeung tingali pekerjaanna, mereka di bayar lebih untuk bekerja lebih .

Lama atau tidaknya menganggur bukan tolak ukur baik atau buruknya keadaan, karena kita tidak bisa asal mengambil pekerjaan, dan diam di rumah adalah satu-satunya jalan terbaik .

Nganggur lila lila lain kahadean, nya nggeus kari neang gawe jeung d gawe, nyeta neang gawena hese aribanu sahandapeun ti saybreaah loba, masalahna mun kitumah jang naon aing kaluar, i'm make mistake . (Teu betah).

Kmh ngke we .

Timing .
Tidak tahu, yang terbaik. Tenang .

It was called waiting .

Waktu terus berjalan .

Soon or later, life is gambling .

Your job is not your future, semua ada masa habisnya .

ari sakirana jd beban mag kluar w da moal bner ath.

Proses

Optimis dan positive thinking, penampilan dan pengalaman .

Bisa .
Ngusahakeun nu aya .

Banyak hal yang perlu diperhitungkan .

Mungkin sederhana bila persoalan sehari-hari hanya sebatas ‘bad hair day’ saja. Tinggal ke salon, atau meluangkan waktu untuk mencari
hairdryer dan sisir, masa persoalan selesai sudah. Namun hari-hari di kantor tidak melulu soal bad hair day . Ada hari-hari di mana kamu merasa segalanya menyiksa. Semangat bekerjamu entah lari ke mana, sementara itu masalah satu demi satu muncul minta untuk diselesaikan. Target yang masih jauh di angan-angan, sementara gaji yang diharap-harapkan sudah habis sejak pertengahan bulan. Semua hal yang bisa menyemangati tak bisa diandalkan lagi.
Setiap kali pulang ke rumah, pikiranmu diliputi pertanyaan: Apa sih yang sebenarnya kamu lakukan ini? Lalu disusul dengan kemarahan dan diakhiri dengan pikiran untuk mengundurkan diri saja. Mungkin pekerjaan ini memang bukan ‘kamu banget!’. Daripada terus-menerus tersiksa, lebih baik kamu
resign dan mencari pekerjaan lain yang ‘kamu banget!’.
Ada masanya hari-hari di kantor terasa suram. Bangun pagi terasa begitu berat dan rasanya waktu berjalan ekstra lambat untuk mencapai weekend. Tapi jangan terburu-buru memutuskan. Karena mungkin sebenarnya kamu tidak perlu resign, hanya sekadar butuh liburan!
1. Namanya otak manusia pasti ada batasnya. Pikiran sudah buntu, membuatmu merasa tak mampu memenuhi target kerja yang diharapkan
Momen-momen kamu ‘merasa bodoh’ itu bukan hal yang tidak biasa. Ketika segalanya mulai menekan dan stres pun menghampiri, memang sulit untuk tetap fokus pada pekerjaan. Akibatnya apa-apa terlihat lebih sulit dari seharusnya. Di sini pikiranmu rawan buntu. Melihat target yang masih jauh di angan-angan sementara hari-hari terus bergulir, membuatmu makin panik.
Namun, bukankah otak manusia memang ada
limit- nya? Ibarat komputer yang dipakai terlalu lama, mesinmu sudah mulai melambat dan harus dimatikan sebentar supaya bisa istirahat. Otakmu juga sama. Disiksa dan dipaksa memikirkan pekerjaan sekian lama, kini mulai kehilangan kemampuan maksimalnya. Terkadang kamu juga perlu menekan tombol restart , agar otak dan mood
tidak sekarat.
2. Jangan coba-coba resign kalau kamu tak punya rencana jelas bagaimana nantinya menyambung hidup. 100% kamu hanya akan lebih dalam terperosok dalam penyesalan dan stres
Ketika keinginan untuk mengundurkan diri itu muncul, tanyakan pada dirimu sendiri: setelah ini, apa yang hendak kamu lakukan? Bila kamu sudah punya rencana yang matang atau sudah punya pelabuhan baru yang lebih baik, silakan saja. Namun bila kamu berpikir untuk mencari pekerjaan yang sama dengan level yang sama hingga penghasilan yang relatif sama, buat apa?
Bila kamu belum punya rencana apa-apa dan hanya berpikir bagaimana lepas dari segala masalah pekerjaan yang menderamu sekarang, apakah tidak bahaya? Kamu memang sedang stres dan tertekan. Tapi itu hal yang biasa terjadi. Jadi alih-alih mengundurkan diri, lebih baik kamu meliburkan diri. Ambil cuti, dan susun rencana liburan yang menyenangkan untuk mengembalikan kewarasan.
3. Jika kamu lelah luar biasa, merasa
overload dan hampir gila itu wajar terjadi. Tak berarti kamu harus resign, ambilah cuti untuk pemulihan diri
Saat kamu merasa overload , siang dan malam memikirkan pekerjaan, hingga kamu merasa hidupmu sudah tergadaikan, wajar bila kamu merasa nyaris gila. Ini karena tubuh dan pikiranmu memang sudah lelah luar biasa. Kamu butuh jeda. Ibarat sedang menonton film yang terlalu berat, kamu butuh menekan tombol ‘ pause ‘ untuk istirahat sejenak dan nanti melanjutkan. Karena itu kamu butuh liburan. Siapkan surat cuti untuk dua atau tiga hari. Liburkan dirimu dari pekerjaan, dan nikmati hidup di luar sana. Ketika kembali nanti, mungkin pikiranmu sudah fresh lagi.
Namun di sini kamu juga tetap harus evaluasi diri sendiri. Pekerjaan yang menumpuk mudah membuatmu merasa overload , dan pada akhirnya membuatmu gila sendiri. Bila ini yang terjadi, mungkin kamu bisa menengok kembali bagaimana cara kerjamu selama ini. Barangkali ada cara yang perlu diperbaiki.
4. Rasa lelah dan putus asa terkadang membuat keputusan datang tanpa logika. Di saat-saat seperti ini jangan buru-buru tulis surat resign, kamu hanya butuh menenangkan diri
Merasa bodoh, merasa tidak mampu, merasa kewalahan, dan merasa tersiksa oleh beban pekerjaan sering memicu kemarahan dalam diri. Rasa tertekan dan jenuh itu membuat semangat menghilang dan emosi memburuk. Karena inilah kamu terpikir untuk berhenti saja supaya penderitaan ini berakhir. Tapi tolong jangan dulu buru-buru mengambil keputusan. Orang bilang keputusan yang diambil saat jatuh cinta atau saat sedang marah adalah keputusan yang berbahaya. Tentu karena keputusan yang diambil hanya berdasarkan emosi sesaat biasanya akan disesali.
Saat pikiranmu mulai kacau dan emosimu mulai naik turun tak karuan, itu tanda bahwa kamu harus menenangkan diri. Lagi-lagi, mengambil liburan adalah solusi yang paling masuk akal. Sebentar mengundurkan diri dari pusingnya pekerjaan, akan membantumu menenangkan diri sekaligus mengambil jarak. Sehingga keputusan apa pun yang kamu ambil nanti, tidak akan kamu sesali di kemudian hari.
5. Meskipun kamu jadi direktur utama sekalipun, hari-hari buruk itu pasti masih tetap ada. Tapi percayalah bahwa dengan menyelesaikan masalah satu per satu, harimu akan terus membaik
Apa yang kamu harapkan dari niat mengundurkan diri ini? Toh, di manapun kamu bekerja dan apapun posisimu di perusahaan, hari-hari buruk yang dipenuhi masalah itu tetap ada saja. Memiliki posisi tinggi tidak berarti membuatmu terlepas dari segala omelan atasan yang menyebalkan. Justru semakin tinggi jabatan semakin berat pula persoalan dan tanggung jawabmu.
Lagipula, bukankah ini ujian dari profesionalitas yang kamu agung-agungkan itu? Bila kamu membiarkan masalah semacam ini membuatmu mundur dari perusahaan, apakah jika di kemudian hari masalah yang sama datang, kamu akan mundur lagi? Tidak ada masalah yang datang sia-sia. Seiring kamu mencari jalan keluar untuk persoalan, skill dan kemampuanmu juga pasti berkembang. Jadi, sabar-sabarlah dulu ya.
6. Rasa jenuh dan bosan itu pasti terjadi dalam pekerjaan apapun. Meski sudah berada di karier impian, mimpi pun akhirnya jadi rutinitas yang seringkali membuatmu bosan
Bila kita bekerja di luar passion , tertekan dan stres memang lebih rawan datangnya. Bosan dan jenuh akan sering mendera karena yang kamu jalani bukanlah hal-hal yang disukai, apalagi hobi. Namun, bukan berarti bila bekerja di bidang yang disukai atau sesuai dengan passion , membuatmu terhindar dari jenuh dan bosan untuk selamanya. Tetap saja akan datang momen-momen yang membuatmu tersiksa.
Entah itu karena klien yang seenaknya atau atasan yang menyebalkan, hal-hal menyebalkan itu tetap saja ada. Mengurusi hal yang sama setiap hari juga bisa membuatmu bosan, sesuka apapun kamu pada apa yang kamu lakukan. Sama seperti sebuah hubungan, bukan? Secinta apapun kamu padanya, tetap saja ada momen-momen sulit, entah karena bosan atau masalah yang silih berganti datang, yang membuat hubungan terasa sulit dilanjutkan.
Masa-masa menyebalkan dalam pekerjaan itu sudah pasti ada. Bukan hanya karena atasan yang tak berhenti mengomel ataupun klien yang suka seenaknya, tapi juga karena semangat kerja yang tiba-tiba menghilang entah ke mana. Momen-momen semacam itu adalah tanda bahwa kamu mendekati
limit -mu. Bukan untuk berhenti selamanya, tapi untuk istirahat sebentar. Karenanya, jangan terburu-buru mengetik surat resign. Lebih baik tulis surat cuti, dan pergilah liburan. Siapa tahu setelah ini, mood-mu yang hilang itu kembali lagi.
Memang begitulah khas generasi millennial . Mudah bosan dan mudah membuat keputusan yang spontan. Sabar dulu, karena emosi hanya akan merugikanmu.

Setiap perusahaan punya tantangannya tersendiri, terlebih apabila orang baru muncul menempati atasan kita. New person, new style dan pastinya new challenge. Dalam kondisi seperti itu hukum rimba yang akan melakukan seleksi alam “siapa yang kuat, dialah yang bertahan”.
Seperti kejadian di kantor, beberapa bulan ini. Pimpinan baru dari lingkungan dan background yang berbeda datang dan seolah merubah apapun yang ada yang dibangun selama ini. Apakah perubahannya menjadi lebih buruk? Ku jawab tidak. Sebenarnya perubahan yang diciptakan adalah untuk membangun perusahaan agar lebih maju, tapi faktanya, semua karyawan kaget dan belum siap dengan keadaan itu.
Dalam kondisi tersebut, seolah bos lama ingin kembali, atau menghindarinya dengan mencari bagian baru dengan bos yang cocok atau sekalian resign dan pindah perusahaan. Tapi kembali lagi resign is not the best way, why?
1. Mencari perusahaan baru tak semudah melepaskan pekerjaan lama.
Setiap tahun ratusan bahkan ribuan lulusan mulai SMA, Diploma dan Sarjana, tak kurang mewarnai panggung bursa kerja. Job fair online dan offline selalu penuh dengan job seeker. Fresh graduate dengan ilmu baru akan memberi warna tersendiri, lantas bukankah experienced juga pasti diperhitungkan??
Memang sebagai orang yang pernah bekerja kita pasti mengandalkan pengalaman yang kita peroleh dari perusahaan lama tapi dengan banyaknya saingan yang ada, peluang yang ada pasti jauh lebih kecil. Memang bukan hal mustahil, tapi kita tetap harus berpikir realistis bahwa daripada harus bersusah payah mencari yang baru, mengapa tidak memperbaiki diri dan terus belajar menghadapi kondisi lama dengan bos baru tersebut.
2. Meskipun kita sudah berada di tempat baru, bos baru pun tak luput punya sifat yang sama dengan bos yang lama
Pada dasarnya setiap pimpinan kerja selalu berharap punya tim yang solid dan tidak menyerah. Andaikan kita resign dengan alasan menghindari tantangan yang ada, berarti kita tergolong orang yang gampang menyerah. Jika alasan ini terdengar bos di tempat kita yang baru, stigma negative sebagai orang yang gampang menyerah pasti akan melekat dalam diri kita. Kita akan sulit beradataptasi dan sulit berkembang, pada akhirnya kita akan resign lagi dan lagi, pertanyaan sekarang sampai kapan kita bersikap seperti itu?
3. Pekerjaan baru dengan tantangan yang lebih sulit akan kita hadapi.
Setiap perusahaan punya karakteristiknya sendiri-sendiri walaupun dalam bidang yang sama. Kita ambil contoh perusahaan mie instan, di negara kita begitu banyak perusahaan yang memproduksi mie instan, dari yang terkenal seperti indom**, sampai yang biasa banget.
Citarasa setiap mie berbeda-beda berarti masing-masing perusahaan punya something different yang bakal membedakan dengan perusahaan lainnya. Walaupun kita nantinya melamar ke perusahaan yang masih dalam bidang yang sama dengan perusahaan lama, tapi berbedanya karakteristik akan menyebabkan perbedaan jenis pekerjaan yang akan kita hadapi. Bukankah itu menimbulkan tantangan baru yang lebih rumit?
4. Orang baru yang beragam adalah teman kita sehari-hari.
Mungkin kebetulan kita sekarang berada di perusahaan yang cukup bonafit, karena tuntutan kerja yang makin meningkat, akhirnya menyerah untuk mencoba melamar ke perusahaan yang biasa saja dengan harapan awal, pekerjaan kita lebih santai.
Sebenarnya pemikiran yang demikian adalah salah besar, kenapa? Karena tentunya teman-teman kita di perusahaan baru akan mengekspektasikan tinggi untuk kinerja kita, karena kita pernah bekerja di perusahaan besar. Dengan demikian kita pastinya akan dituntut lebih tinggi daripada karyawan lain.
5. Gaji dan tunjangan kesejahteraan yang belum tentu lebih baik.
Setiap perusahaan punya aturan kesejahteraan yang berbeda-beda. Saat kita melepaskan perusahaan sekarang dengan tingkat kesejahteraan yang sudah memadai demi meraih perusahaan lain yang "katanya" bergaji lebih tinggi, hal ini juga tidak dapat dibenarkan. Sebelum pada akhirnya kita putuskan untuk pindah kerja, pastikan terlebih dahulu kesejahteraan karyawan di perusahaan baru lebih baik dari perusahaan sekarang.
6. Pada akhirnya menghadapi setiap tantangan bukan menghindarinya adalah pilihan yang bijak.
Setiap orang pernah melakukan kesalahan, bukan seberapa sering dia menghindar, melainkan seberapa cepat ia akan memperbaiki dan tak mengulangi lagi. Just face every challenge, not avoid it. Setiap tantangan, masalah akan menjadi guru bagi diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih mandiri. Semakin besar tantangan yang pernah kita hadapi akan menjadi poin tambah di depan atasan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar