Minggu, 03 November 2019

tawakal .

Tong mikirkeun dunia, tong loba nuntut kana dunia. 

Kemampuan bersabar dan bersyukur itu di duking oleh seberapa banyaj ilmu agama yang kita miliki .

Tidak tenang, Malas beribadah karena tidak bersyukur karena membandingkan karena merasa tidak lebih baik karena merasa tidak ada kenikmatan , karena tidak melihat yang allah berikan, fokus pada apa yang tidak dimiliki . Tidak tenang . Berburuk sangka pada allah, tidak mampu/menerima atau berpikir dari hikmah apa yang allah berikan, mengandalkan diri sendiri percaya pada kemampuan diri artinya tidak tawakal .
Pengertian Tawakal tidak menerima takdir , tidak beriman pada takdir dan allah . Iman kepada takdir allah mengetahui masa depan anda sampai meninggal . Menerima karena hidup semebtara adanya hari kiamat dan kematian .


بسم الله الرحمن الرحيم

التوكل واليقين

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ أَخْبَرَنِي بَكْرُ بْنُ عَمْرٍو أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هُبَيْرَةَ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ أَبَا تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيَّ يَقُولُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا (رواه أحمد)

Dari Umar bin Khattab ra berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Sekilas Tentang Hadits

Hadits ini merupakan hadits marfu’ dari Umar bin Khattab ra, yang diriwayatkan melalui jalur sanad Abdullah bin Hubairah, dari Abu Tamim Al-Jaisyani, dari Umar bin Khattab, dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh :

• Imam Turmudzi dalam Sunan/ Jami’nya, Kitab Al-Zuhud An Rasulillah SAW, Bab Fi Attawakkal Alallahi, hadits no 2344.
• Imam Ibnu Majah dalam sunnannya, Kitab Al-Zuhud, Bab Attawakkal Wal Yaqin, hadits no 4164.
• Imam Ahmad bin Hambal dalam tiga tempat dalam musnadnya, yaitu pada hadits no 205, 372 dan 375.

Makna Hadits Secara Umum

Hadits di atas menjelaskan tentang hakekat tawakal yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dengan perumpamaan seekor burung. Dimana burung pergi (baca ; mencari karunia Allah) pada pagi hari dengan perut kosong karena lapar, namun di sore hari ia pulang dalam keadaan perut kenyang dan terisi penuh. Karena pada hakekatnya Allah SWT lah yang memberikan rizkinya sesuai dengan kebutuhannya.

Demikian juga manusia, sekiranya manusia benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan mengamalkan hakekat tawakal yang sesungguhnya, tentulah dari aspek rizki, Allah SWT akan memberikan rizki padanya sebagaimana seekor burung yang berangkat pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang pada sore hari dengan perut kenyang. Artinya insya Allah rizkinya akan Allah cukupi.

Makna Dan Hakekat Tawakal

Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. (Munawir, 1984 : 1687). Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah SWT.

Sedangkan dari segi istilahnya, tawakal didefinisikan oleh beberapa ulama salaf, yang sesungguhnya memiliki muara yang sama. Diantara definisi mereka adalah:

1. Menurut Imam Ahmad bin Hambal.

Tawakal merupakan aktivias hati, artinya tawakal itu merupakan perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan sesuatu yang diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakal juga bukan merupakan sebuah keilmuan dan pengetahuan. (Al-Jauzi/ Tahdzib Madarijis Salikin, tt : 337)

2. Ibnu Qoyim al-Jauzi

“Tawakal merupakan amalan dan ubudiyah (baca; penghambaan) hati dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, tsiqah terhadap-Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala ‘kecukupan’ bagi dirinya…, dengan tetap melaksanakan ‘sebab-sebab’ (baca ; faktor-faktor yang mengarakhkannya pada sesuatu yang dicarinya) serta usaha keras untuk dapat memperolehnya.” (Al-Jauzi/ Arruh fi Kalam ala Arwahil Amwat wal Ahya’ bidalail minal Kitab was Sunnah, 1975 : 254)

Sebagian ulama salafuna shaleh lainnya memberikan komentar beragam mengenai pernak pernik takawal, diantaranya adalah ungkapan : Jika dikatakan bahwa Dinul Islam secara umum meliputi dua aspek; yaitu al-isti’anah (meminta pertolongan Allah) dan al-inabah (taubat kepada Allah), maka tawakal merupakan setengah dari komponen Dinul Islam secara umum meliputi dua aspek; yaitu al-isti’anah (meminta pertolongan Allah) dan al-inabah (taubat kepada Allah), maka tawakal merupakan setengah dari komponen Dinul Islam. Karena tawakal merupakan repleksi dari al-isti’anah (meminta pertolongan hanya kepada Allah SWT) : Seseorang yang hanya meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah, menyandarkan dirinya hanya kepada-Nya, maka pada hakekatnya ia bertawakal kepada Allah.

Salafus saleh lainnya, Sahl bin Abdillah al-Tasattiri juga mengemukakan bahwa ‘ilmu merupakan jalan menuju penghambaan kepada Allah. Penghambaan merupakan jalan menuju kewara’an (sifat menjauhkan diri dari segala kemaksiatan). Kewaraan merupakan jalan mmenuju pada kezuhudan. Dan kezuhudan merupakan jalan menuju pada ketawakalan. (Al-Jauzi, tt : 336)

Tawakal merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam Islam. Oleh karena itulah, kita dapat melihat, banyak sekali ayat-ayat ataupun hadits-hadits yang memiliki muatan mengenai tawakal kepada Allah SWT. Demikian juga para salafus shaleh, juga sangat memperhatikan masalah ini. Sehingga mereka memiliki ungkapan-ungkapan khusus mengenai tawakal.

Derajat Tawakal

Tawakal merupakan gabungan berbagai unsur yang menjadi satu, dimana tawakal tidak dapat terealisasikan tanpa adanya unsur-unsur tersebut. Unsur-unsur ini juga merupakan derajat dari tawakal itu sendiri:

1. (معرفة بالرب وصفاته)

Derajat pertama dari tawakal adalah : Ma’rifat kepada Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya minimal meliputi tentang kekuasaan-Nya keagungan-Nya, keluasan ilmu-Nya, keluasan kekayaan-Nya, bahwa segala urusan akan kembali pada-Nya, dan segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya, dsb.

2. (إثبات في الأسباب والمسببات)

Derajat tawakal yang kedua adalah : Memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha. Karena siapa yang menafikan keharusan adanya usaha, maka tawakalnya tidak benar sama sekali. Seperti seseorang yang ingin pergi haji, kemudian dia hanya duduk di rumahnya, maka sampai kapanpun ia tidak akan pernah sampai ke Mekah. Namun hendaknya ia memulai dengan menabung, kemudian pergi kesana denan kendaraan yang dapat menyampaikannya ke tujuannya tersebut.

3. (رسوخ القلب في مقام توحيد التوكل)

Derajat Tawakal yang ketiga adalah : Adanya ketetapan hati dalam mentauhidkan (mengesakan) Dzat yang ditawakali, yaitu Allah SWT. Karena tawakal memang harus disertai dengan keyakinan akan ketauhidan Allah. Jika hati memiliki ikatan kesyirikan-kesyirikan dengan sesuatu selain Allah, maka batallah ketawakalannya.

4. (اعتماد القلب على الله، واستناده إليه، وسكونه إليه)

Derajat tawakal yang keempat adalah : Menyandarkan hati sepenuhnya hanya kepada Allah SWT, dan menjadikan situasi bahwa hati yang tenang hanyalah ketika mengingatkan diri kepada-Nya. Hal ini seperti kondisi seorang bayi, yang hanya bisa tenang dan tentram bila berada di susuan ibunya. Demikian juga seorang hamba yang bertawakal, dia hanya akan bisa tenang dan tentram jika berada di ‘susuan’ Allah SWT.

5. (حسن الظن بالله عز وجل)

Derajat tawakal yang kelimana adalah : Husnudzan (baca ; berbaik sangka) terhadap Allah SWT. Karena tidak mungkin seseorang bertawakal terhadap sesuatu yang dia bersu’udzan kepadanya. Tawakal hanya dapat dilakukan terhadap sesuatu yang dihusndzani dan yang diharapkannya.

6. (استسلام القلب له)

Derajat Tawakal yang keeman adalah : Memasrahkan jiwa sepenuhya hanya kepada Allah SWT. Karena orang yang bertawakal harus sepenuh hatinya menyerahkan segala sesuatu terhadap yang ditawakali. Tawakal tidak akan mungkin terjadi, jika tidak dengan sepenuh hati memasrahkan hatinya kepada Allah.

7. (التفويض)

Derajat tawakal yang ketujuh yaitu : Menyerahkan, mewakilkan, mengharapkan, dan memasrahkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT. Dan hal inilah yang merupakan hakekat dari tawakal. Allah SWT berfirman: (QS. 40 : 44)

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.
Seorang hamba yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, maka ia tidak akan berbuat melainkan dengan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena dia yakin, bahwa Allah tidak akan menetapkan sesuatu kecuali yang terbaik bagi dirinya baik di dunia maupun di akhirat.

Tawakal Dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an sangat menaruh perhatian terhadap permasalahan tawakal ini. Sehingga kita jumpai cukup banyak ayat-ayat yang secara langsung menggunakan kata yang berasal dari kata tawakal. Berdasarkan pencarian yang dilakukan dari CD ROM Al-Qur’an, kita mendapatkan bahwa setidaknya terdapat 70 kali, kata tawakal disebut oleh Allah dalam Al-Qur’an. Jika disimpulkan ayat-ayat tersebut mencakup tema berikut:

1. Tawakal merupakan perintah Allah SWT.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 8 : 61)

وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Lihat juga QS.11:123, 25:58, 26:217, 27:79, 33:3, 33:48,

2. Larangan bertawakal selain kepada Allah (menjadikan selain Allah sebagai penolong)

Allah berfirman (QS. 17:2)

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلاَّ تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي ‎وَكِيلاً

Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,

3. Orang yang beriman; hanya kepada Allah lah ia bertawakal.

Allah berfirman (QS. 3 : 122) :

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Dan hanya kepada Allahlah, hendaknya orang-orang mu’min bertawakal.

Lihat juga QS.3:160, 5:11, 5:23, 7:89, 8:2, 9:51, 58:10, 64:13.


4. Tawakal harus senantiasa mengiringi suatu azam (baca; keingingan/ ambisi positif yang kuat)

Allah berfirman (QS. 3 : 159)

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

5. Allah sebaik-baik tempat untuk menggantungkan tawakal (pelindung)

Allah berfirman (QS. 3: 173)

وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Lihat juga QS.4:81, 4:109, 4:132, 4:171.

6. Akan mendapatkan perlindungan, pertolongan dan anugrah dari Allah.

Allah berfirman (QS. 8 : 49):

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Lihat juga QS.17:65.

7. Mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat (surga)

Allah berfirman (QS. 16: 41-42):

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأَجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ*
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.

Lihat juga QS.29:58-59.

8. Allah akan mencukupkan orang yang bertawakal kepada-Nya.

Allah berfirman (QS. 65:3):

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Tawakal Dalam Hadits

Selain dalam Al-Qur’an, dalam haditspun, tawakal memiliki porsi yang sangat banyak. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 11 hadits. Sedangkan pelacakan melalui CD ROM, kita mendapatkan terdapat sekitar 900 an hadits yang terdapat kata yang berasal dari kata tawakal. (Dari 9 kitab hadits induk, yaitu Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abu Daud, Timidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Addarimi, Muwatha’ Malik dan Musnad Imam Ahmad bin Hambal.) Sebelas hadits yang dicantumkan Imam Nawawi dalam Riyadus Shalihin, telah mencakup sebagaian besar hadits-hadits tentang tawakal. Dari hadits-hadits tentang tawakal ini, kita dapat menyimpulkan beberpa poin :

1. Orang yang bertawakal hanya kepada Allah, akan masuk ke dalam surga tanpa hisab.

Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ أُمَّتِي فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَوْمُهُ وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي انْظُرْ إِلَى الأُفُقِ الآخَرِ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الإِسْلاَمِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ وَذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لاَ يَرْقُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ أَنْتَ مِنْهُمْ ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda: Telah ditunjukkan kepadaku keadaan umat yang dahulu, hingga saya melihat seorang nabi dengan rombongan yang kecil, dan ada nabi yang mempunyai penigkut satu dua orang, bahkan ada nabi yang tiada pengikutnya. Mendadak telihat padaku rombongan yang besar (yang banyak sekali), saya kira itu adalah umatku, namun diberitahukan kepadaku bahwa itu adalah nabi Musa as beserta kaumnya. Kemudian dikatakan kepadaku, lihatlah ke ufuk kanan dan kirimu, tiba-tiba di sana saya melihat rombongan yang besar sekali. Lalu dikatakan kepadaku, Itulah umatmu, dan di samping mereka ada tujuh puluh ribu yang masuk surga tanpa perhingungan (hisab). Setelah itu nabi bangun dan masuk ke rumahnya, sehingga orang-orang banyak yang membicarakan mengenai orang-orang yang masuk surga tanpa hisab itu. Ada yang berpendapat; mungkin mereka adalah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Ada pula yang berpendapat, mungkin mereka yang lahir dalam Islam dan tidak pernah mempersekutukan Allah, dan ada juga pendapt-pendapat lain yang mereka sebut. Kemudian Rasulullah SAW keluar menemui mereka dan bertanya, ‘apakah yang sedang kalian bicarakan?’. Mereka memberiktahukan segala pembicaraan mereka. Beliau bersabda, ‘ Mereka tidak pernah menjampi atau dijampikan dan tidak suka menebak nasib dengan perantaraan burung, dan hanya kepada Rab nya lah, mereka bertawakal.” Lalu bangunlah Ukasyah bin Mihshan dan berkata, ‘Ya Rasulullah SAW doakanlah aku supaya masuk dalam golongan mereka.’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian berdiri pula orang lain, dan berkata, ‘doakan saja juga supaya Allah menjadikan saya salah satu dari mereka.’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Engkau telah didahului oleh Ukasyah.” (HR. Bukhari & Muslim).

2. Tawakal merupakan sunnah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW sendiri senantiasa menggantungkan tawakalnya kepada Allah SWT. Salah satu contohnya adalah bahwa beliau selalu mengucapkan doa-doa mengenai ketawakalan dirinya kepada Allah SWT:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ (رواه مسلم)

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW senantiasa berdoa, ‘Ya Allah hanya kepada-Mulah aku menyerahkan diri, hanya kepada-Mulah aku beriman, hanya kepada-Mulah aku bertawakal, hanya kepada-Mulah aku bertaubat, hanya karena-Mulah aku (melawan musuh-musuh-Mu). Ya Allah aku berlindung dengan kemulyaan-Mu di mana tiada tuhan selain Engkau janganlah Engkau menyesatkanku. Engkau Maha Hidup dan tidak pernah mati, sendangkan jin dan manusia mati. (HR. Muslim)

3. Allah merupakan sebaik-baik tempat untuk bertawakal.

Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Abbas ra, “Hasbunallah wani’mal Wakil’ kalimat yang dibaca oleh Nabi Ibrahim as ketika dilempar ke dalam ap, dan juga telah dibaca oleh Nabi Muhammad SAW ketika diprovokasi oleh orang kafir, supaya takut kepada mereka ; ‘sesungguhnya manusia telah mengumpulkan segala kekuatannya untuk menghancurkan kalian, maka takutlah kamu dan janganlah melawan, tapi orang-orang beriman bertambah imannya dan membaca, Hasbunallah wa ni’mal Wakil (cukuplah Allah yang mencukupi kami dan cukuplah Allah sebagai tempat kami bertawakal.” (HR. Bukhari)

4. Tawakal akan mendatangkan nasrullah.

Sebagaimana yang terdapat dalam hadits no 5, dalam kitab Riyadhus Shalihin. Dimana dikisahkan pada saat perang Dzatur riqa’, ketika Rasulullah SAW sedang beristirahat di bawah sebuah pohon, sedangkan pedang beliau tergantung di pohon. Ketika tiba-tiba datang seorang musyrikin yang mengambil pedang beliau sambil berkata, siapa yang dapat melindungimu dariku?. Namun dengan sangat tenang Rasulullah SAW menjawab Allah. Setelah tiga kali bertanya, tiba-tiba pedang yang dipegangnya jatuh. Lalu Rasulullah SAW mengambil pedang tersebut seraya bertanya, sekarang siapakah yang dapat melindungimu dari ku?

5. Tawakal yang benar tidak akan menjadikan seseorang kelaparan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا (رواه الترمذي)

Dari Umar ra, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,’sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, pastilah Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rizki pada seekor burung. Pergi pagi hari dalam keadaan perut kosong, dan pulang sore hari dalam keadaan perut kenyang. (HR. Tirmidzi)

6. Tawakal adalah setelah usaha.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ (رواه الترمذي)

Dari Anas bin Malik ra, ada seseorang berkata kepada Rasulullah SAW. ‘Wahai Rasulullah SAW, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)

Penutup

Tawakal yang merupakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah SAW, jika dilakukan dengan baik dan benar, insya Allah tidak akan menjadikan seorang hamba menjadi hina dan tidak memiliki apa-apa. Karena tawakal tidak identik dengan kepasrahan yang tidak beralasan. Namun tawakal harus terlebih dahulu didahului dengan adanya usaha yang maksiman. Hilangnya usaha, berarti hilanglah hakekat dari tawakal itu.

Oleh kerananya, marilah kita meningkatkan rasa tawakal kita kepada Allah, dengan memperbanyak unsur-unsur yang merupakan derajat dalam ketawkalan ke dalam diri kita. Sehingga kitapun dapat masuk ke dalam surga Allah tanpa adanya hisab, sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits di atas. Amin.

Wallahu A’lam
Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

Selasa, 22 Oktober 2019

bekal

Takwa kepada allah. 
Maha pemberi .
Takut kepada allah.
Selalu beribadah tunduk dan taat melakukan perintah perintah kepada allah.
Ridha terhadap apa yang allah berikan .
Punya persiapan untuk hari akhir .

Rabu, 09 Oktober 2019

How ?

Tauhid
Allah
Akherat
Takdir
Hikmah

Berpikirlah sebatas apa yang terlihat .

Jalani we fan, nu aya hareupeun panon .
Persiapan di masa depan, bukan belum cukup siap sblumnya .

Tidak ada hasil.

1. Merasa tidak ada progres yang baikBuat kamu yang berpikir bahwa uang adalah segalanya, coba pikir lagi deh. Mungkin ada saat di mana kamu berpikir bahwa kamu bekerja untuk mendapatkan gaji. Meskipun itu ada benarnya, tapi sebenarnya banyak dari kita merasa bahwa yang terpenting adalah apa yang kita kerjakan dapat diperhitungkan oleh perusahaan. Ya, semua orang ingin apa yang mereka kerjakan dianggap efektif, lebih dari sekadar mendapatkan gaji setiap bulannya. Jadi kalau kamu kurang motivasi, lihat apakah ada kemajuan dari kerjaanmu.

Memiliki ketenangan dalam menyikapi nafsu (keinginan pribadi) dan tuntutan hidup ?
Menerima (bersyukur), berdoan dan memikirkan hidup tidak sebatas dunia .

Tenangkan dirimu untuk apa yang belum kamu miliki, pahala dan sementara . Tidak ada yang sia sia, kaya akan nikmat .

Senin, 16 September 2019

Ikhtiar .

Biarkan ikhtiar urang allah yang menuntun, bukan urang nu mengusahakan .

Terakhir kali urang mengandalkan diri sendiri, thing's not going well .

Kamis, 12 September 2019

Berpikiran terbuka.

Jangan takut, bersyukur, berbaik sangka .

Mampu keneh hirup .

Terlalu fokus pada apa yang kamu keluhkan, dan lupa dengan kekayaan nikmat yang kamu dapatkan .

Allah menginginkan yang lebih baik .

Melihat sisi buruk dari setiap kejadian.

Ingat, keadaan bisa menjadi lebih buruk, maka bersyukurlah .

Pesimis dan berpikiran buruk tidak membawaku kemana-mana . Allah tahu masa depan kita .

Komo ieu anu langsung katingali bogohna jiga anu menggampangkan perasaan .

Kamis, 05 September 2019

Gambaran sempurna , perfeksionis, imajiner. Fantasy .

Apa adanya dan semampunya .

Melakukan dengan benar .. 

Lembut, penyayang, melindungi .

Maneh ngarasa bahwa lalaki bisa memberika ketenangan dan kekuatan dengan pembawaanya, sedangkan maneh overthingking dan takut . Cemas.stress. 

Mikirna biasa.

(Lawannya) Padahal biasa .

Bukan pengakuan, tapi lebih kepada keadaan .

Tidak menerima kenyataan bahwa hidup butuh perjuangan, kalau tidak ada perjuangan lalu darimana ada perhitungannya ? Apalagi kamu orang yang tahu betul perhitungan itu seperti apa .

Lalu darimana mana asalnya urang bisa boga pemikiran bahwa tidak ingin melalui perjuangan ? Pengalaman kesulitan di masa lalu yang meninggalkan luka batin yang cukup membekas menimbulkan pemikiran gambaran sempurna bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang tidak akan pernah mengalami lagi kesulitan. 

Tidak pernah ada .

Senin, 02 September 2019

Rumah tangga .

Sindrom Pra-Pernikahan Bisa Jadi Boomerang yang Menyerang Kapan Saja. 8 Hal Ini Cara Menyikapinya!
17 Februari 2016
Author :
Pradnya Wardhani

Setelah serangkaian proses yang sudah dilewati, mulai dari kenalan, pendekatan, pacaran, lalu lamaran, akhirnya hubungan akan sampai pada tahap pernikahan. Mempersiapkan pernikahan bisa jadi menjadi momen paling sulit dan heboh yang bisa kamu alami. Ternyata begitu banyak yang harus kamu pikirkan sebelum sebuah pesta indah dan sakral yang diidam-idamkan digelar.

Gedung, catering, baju pengantin, souvenir, gimana? Sudah oke? Belum? Arrrgh!

Bukan cuma persoalan teknis, kamu juga akan direpotkan dengan persoalan psikologis yang semakin membuatmu tertekan. Sebulan sebelum pernikahan, kamu bisa saja berpikir “Tidakkah pernikahan ini terlalu cepat?”. Kamu bisa tiba-tiba merasa bahwa kamu dan pasanganmu terlalu terburu-buru merencanakan pernikahan. Apalagi kalau kalian belum lama pacaran.

Lalu kamu akan mulai mempertanyakan kesiapanmu sendiri. Kamu tahu pernikahan berarti kamu akan memasuki satu tahap kehidupan dengan berbagai peraturan baru. Setelah menikah, kamu nggak bisa lagi hanya berpikir untuk dirimu sendiri. Kamu yang tadinya bebas jalan ke sana ke sini, mungkin nggak bisa lagi karena kamu harus memikirkan pasanganmu. Sudah siapkah kamu dengan itu semua?

Setelah meragukan dirimu sendiri, kamu pun mulai meragukan pasanganmu. “Apakah dia benar-benar orang yang tepat?”. Belum cukup itu semua, kamu juga akan mengkhawatirkan acara pernikahanmu nanti.

Dan kekhawatiran terbesarmu mungkin adalah apakah nanti kalian akan benar-benar bahagia? Apakah pernikahan kalian akan berjalan selamanya? Bagaimana jika nanti kalian gagal mempertahankan pernikahan?

Semua pikiran buruk itu membuatmu mulai bimbang dan mulai bertanya-tanya: Apakah pernikahan ini harus diteruskan? Tapi jangan khawatir, kamu nggak sendirian. Itulah yang dinamakan dengan sindrom pra pernikahan. Suatu tekanan psikologis yang akan dialami oleh calon pengantin menjelang hari pernikahan, baik cewek ataupun cowok. Hanya saja tingkatannya berbeda. Ada yang cuma cemas-cemas kecil, ada juga yang sampai stress berat.

Apa kamu juga mengalami hal yang sama? Jika ya, nggak perlu cemas. Kali ini Hipwee akan memberikan beberapa tips untuk mengatasi sindrom pra-pernikahan itu. Simak ya!

1. Pertama, ambilah waktu untuk dirimu sendiri. Lepaskan stress dengan hidup lebih sehat.

olahraga bisa jadi cara mengurangi stress via ajp.com.au
Menurut ilmu psikologi, sindrom pra-pernikahan ini sudah biasa dialami calon pengantin, tapi cukup berbahaya jika nggak segera diatasi. Kecemasan menjelang pernikahan seperti ini bisa membuat calon pengantin mengalami stress yang mengakibatkan sulit tidur, hilang nafsu makan, suasana hati yang buruk, dan paling parah, bisa berdampak pada hubungan setelah pernikahan mereka nanti.

Kalau kamu mengalami hal ini, pertama-tama cobalah mengurangi tingkat stress-mu dengan hidup lebih sehat. Kalau kamu biasanya begadang, cobalah tidur lebih awal. Jangan mengonsumsi makanan dan minuman yang akan membuatmu semakin susah tidur. Saat pagi tiba, sempatkan untuk olahraga, meski itu cuma lari keliling komplek.

Stress bisa terjadi jika aliran oksigen di otakmu kurang atau nggak lancar. Jadi hidup lebih sehat akan membantu memperlancar peredaran darahmu. Selain berguna untuk tubuh, hidup sehat juga akan memperngaruhi kondisi mood kamu lho.

2. Saat kamu pusing memikirkan pernak-pernik acara pernikahanmu, ambil nafas panjang, istirahat sebentar.

relax, ambil napas panjang, istirahat via diyprojects.tips
Karena kamu berharap pernikahanmu itu sekali untuk seumur hidup, wajar kalau kamu ingin semuanya sempurna. Semua calon pengantin pasti ingin menjadi raja dan ratu sehari di acara pernikahan mereka. Tapi segala urusan gedung, katering, dekorasi, sampai seragam untuk keluarga, bisa membuatmu stress sendiri. Kamu khawatir segalanya nggak berjalan baik seperti yang kamu rencanakan.

Kalau kamu benar-benar lelah memikirkan pritilan-pritilan pernikahan ini, sampai kadang kamu merasa kepalamu mau meledak, ambil napas panjang dan istirahat sebentar. Kamu nggak perlu menyelesaikan semua urusan dalam satu hari. Cobalah membuat schedule  yang ramah. Kamu bisa menyelesaikan katering hari ini, dan mulai memikirkan soal gedung di lain hari. Jangan memikirkan semuanya bersamaan. Kamu juga bisa bagi-bagi tugas dengan pasanganmu. Selain membantu meringankan pikiranmu, hitung-hitung sekalian latihan bagi-bagi tugas rumah tangga.

3. Saat kamu mulai meragukan pasanganmu, ingatlah hal-hal yang dulu membuatmu jatuh cinta padanya.

ingat saat kamu jatuh cinta padanya via www.davidbronsonmaestas.com

Meragukan pasangan adalah hal yang lumrah terjadi menjelang pernikahan, walau bukan berarti itu ‘sudah biasa’ ya. Bagaimanapun juga, kamu akan mengarungi kehidupan bersama pasanganmu seumur hidup. Tentunya kamu menginginkan pasangan yang ‘sempurna’ untukmu. Kekhawatiran ‘apakah dia benar-benar orang yang tepat?’ pasti akan terlintas di pikiranmu detik-detik menjelang pernikahan.

Saat kamu mulai meragukan dia, cobalah mengingat apa-apa saja yang dulu membuatmu jatuh cinta padanya. Ingatlah awal pertemuanmu dengannya. Mungkin nggak menyenangkan, tapi pasti menimbulkan kesan. Ingat-ingatlah hari-hari saat kamu dan dia mulai mengenal lebih jauh. Cerita-cerita kehidupannya mungkin membuatmu surprise dan terkesan. Mungkin pelukannya yang hangat, atau bisa juga kebiasaanya yang selalu ada untukmu, mungkin itulah yang membuatmu jatuh cinta padanya.

Kamu juga bisa mempererat hubunganmu dengan pasangan. Lakukan hal-hal positif yang bisa menguatkan ikatanmu dengannya. Selain memperkuat ikatanmu dengan pasanganmu, kamu juga bisa memperkuat hubunganmu dengan keluarga pasanganmu. Bagaimanapun mereka akan menjadi keluargamu juga kelak. Hal-hal positif semacam ini akan membantumu menepis keraguan pada pasanganmu.

4. Saat kamu merasa belum siap, ingatlah bahwa kamu tidak akan pernah siap sampai kapanpun jika mundur hari ini.

nervous itu hal biasa via www.lovewedbliss.com
Masalah siap/belum siap memang problem sepanjang masa. Saat kamu memutuskan untuk menikah, barangkali saat itu kamu merasa sudah siap. Tetapi dengan pernikahan di depan mata, bisa jadi kamu mulai ragu apakah kamu benar-benar sudah siap.

Belum lagi nanti saat kalian harus mengurus anak. Kamu harus memastikan diri kalian sendiri sudah ‘bukan anak-anak’ lagi supaya bisa mengurus anak dengan baik. Bagi kamu yang cowok, bisa juga tiba-tiba merasa kurang percaya diri untuk menjadi kepala keluarga. Itu memang beban yang berat. Wajar bila kamu merasa nggak siap.

Tapi pikirkan lagi semuanya. Kalau kamu mundur kali ini, bisa jadi kamu akan mengalami dilema yang sama di lain waktu. Lalu apakah kamu akan mundur lagi? Akan lebih sulit bagimu untuk mempersiapkan diri kalau kamu mundur hari ini. Lagipula pernikahan bisa menjadi sarana belajar untuk kalian berdua. Yang tadinya egois maunya mikirin diri sendiri, harus bisa memikirkan orang lain saat sudah menikah. Yang tadinya hobi main-main, harus mulai serius karena ada tanggung jawab besar bernama ‘rumah tangga’.

Semuanya memang butuh proses. Jangan menghindar, tapi belajarlah bersamanya.

5. Kamu boleh takut kehilangan kebebasan setelah menikah. Tapi lebih dari itu, bahwa kini kamu tak harus menanggung semuanya sendirian.

saat kamu sedih, ada yang sedih bersamamu via www.dailybackgrounds.com
Kamu khawatir nggak bisa bebas lagi setelah menikah? Wajar. Tapi setelah ini, kamu juga nggak harus memikirkan semuanya sendirian. Soal finansial, soal permasalahan kerjaan, soal keluarga, kamu bisa membagi masalahmu karena sekarang kamu punya partner untuk mencari jalan keluar. Ada yang akan selalu meminjamkan pundaknya jika kamu lelah dan ingin bersandar. Ada yang menenangkanmu dengan pelukan saat kamu merasa hidup begitu menyebalkan sampai kamu ingin menangis.

Kamu yang populer, jangan juga merasa takut kehilangan penggemar-penggemarmu setelah kamu menikah. Toh, saat ini kamu sudah punya penggemar nomor satu yang akan menemanimu dalam duka ataupun senang.

6. Saat kamu mulai ragu pada pernikahanmu, ingat kembali alasan dan tujuan kamu menikah. Menghabiskan sisa hidup bersama dia yang ditakdirkan adalah impian bagi banyak orang.

ingat tujuan kalian menikah via www.shortday.in
Bahagia tentu hal yang paling diinginkan setiap orang dalam pernikahan mereka. Saat kamu kebingungan pada niatmu menikah, dan apakah kalian akan bahagia seperti pasangan-pasangan lainnya, cobalah cari kembali alasan dan tujuanmu menikah. Fokuslah pada tujuan tersebut, niscaya segala keraguanmu akan memudar dengan sendirinya. Karena menghabiskan sisa hidup dengan orang tersayang adalah impian bagi banyak orang. Kamu sudah selangkah lebih dekat dengah impian itu, maka pertahankanlah.

7. Yakinlah bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Keraguanmu saat ini tak akan pernah terjawab jika kamu terlalu takut untuk melangkah.

nggak ada yang sempurna di dunia ini via www.lovethispic.com
Semua orang tahu bahwa di dunia ini nggak ada yang sempurna. Kamu juga tahu, tapi kadang lupa. Jadi yang perlu kamu ingat-ingat adalah, ya itu tadi, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Nggak perlulah mencari orang sempurna untuk menjadi pasangan yang sempurna, kalau selama ini dia sudah bisa membuatmu gembira. Buat apa kamu mati-matian mempersiapkan segalanya agar pesta pernikahanmu sempurna, tapi akhirnya kamu malah tumbang dan nggak fit di hari bahagia.

Keraguan juga akan terus menderamu jika kamu tidak pernah berani melangkah lebih maju. Jangan biarkan rasa ragu membelenggumu untuk menyongsong masa depan. Jalanilah apa yang benar-benar kamu yakini.

8. Tapi pada akhirnya, kamu dan dia bisa menciptakan kesempurnaan versi kalian sendiri..

tapi kesempurnaan bisa kamu ciptakan sendiri via www.blissimages.com.au
Jika bagimu bahagia adalah seperti yang kamu lihat pada pernikahan-pernikahan temanmu, kamu harus segera balik arah. Tak perlulah kamu merujuk pada bahagia orang lain untuk mendefinisikan kebahagiaanmu sendiri. Memang, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi dari segala ketidaksempurnaan itu, kamu bisa menciptakan kesempurnaan versimu sendiri.

Kalau kisah pra nikahnya Ricky Harun gimana ya?

Untuk kamu yang sedang mempersiapkan hidup baru, yakinlah bahwa badai pasti berlalu. Semangat yoo!

Pernikahan itu tidak seperti hal - hal yang kamu pikirkan .