Sabtu, 30 Maret 2019

maksiat

Jangan di asosiasikan dengan kenikmatan

Cilaka

Ilmu agama

Dan hanya karena banyaknya ilmu agama , kita tidak melewati/menjalani sedang kamu hadapi semua persoalan pada saat yang sama , satu waktu .

Ibadah

Dunia ini bukan sarana ladang pahala jika kamu tidak benar-benar bercocok tanam .

Bukan keharusan, tapi mau atau tidak .

Selasa, 26 Maret 2019

Amal

Ada nikmatin g ada ya sudah, mudahin .

Supaya hilang pahalanya

Memberi Makna Kehidupan Menurut Ajaran Islam
Jumat, 20 Januari 2012 22:03

“Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. (QS. Al – Hadid : 20)
DEMIKIAN ilustrasi Al-Quran dalam menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga dan berlomba dalam kekayaan, anak keturunan dan lain sebagainya. Kemudian mengumpamakan itu semua dengan tanam-tanaman yang pada awalnya mengagumkan petani kemudian menjadi kering dan hancur. Di ujung ayat ditutup dengan ungkapan “kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. Satu hal yang paling menakutkan adalah ayat ini disertai dengan ancaman bahwa di akhirat kelak ada azab yang keras, meskipun ada ampunan dan keridhaan Allah.
Mengingat hal tersebut di atas maka bisa dimengerti kenapa kita sebagai muslim yang meyakini kebenaran semua informasi yang datang dari Allah harus mengisi kehidupan ini sesuai dengan ajaran Islam. Karena hanya orang-orang yang hidup di dunia ini di bawah tuntunan dan petunjuk agama sajalah yang akan mendapat ampunan Allah dan keridhaan-Nya di akhirat kelak, selain itu akan mendapat azab yang keras dari-Nya. Oleh karena itu, setiap mukmin diperintahkan untuk beramal dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya semasa hidup di dunia ini. Hari demi hari yang dilalui harus semakin baik dan berguna bagi kehidupan di akhirat.
Jika manusia hanya menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia semata, maka mereka benar-benar menjadi orang-orang yang rugi di hari akhirat nanti. Karena itu, dalam banyak ayat Al-Quran manusia diingatkan agar senantiasa mempersiapkan bekal di kehidupan dunia yang singkat ini untuk kebahagiaan hari esok.
Khutbah singkat ini, ingin memberikan gambaran sekilas tentang cara memaknai hidup secara Islam dan di bawah panji-panji ajarannya yang hanif. Sehingga manusia terhindar dari kehidupan yang bernuansa permainan, perhiasan, senda-gurau dan sikap berbangga-bangga yang merupakan perbuatan sia-sia dari perbuatan syetan. Berikut ini akan dipaparkan beberapa cara memaknai hidup agar bermanfaat di dunia dan di akhirat, yaitu antara lain hidup ini harus diisi dengan hal-hal sebagai berikut:
1.    Islam mengajarkan manusia khususnya para pemeluknya untuk mengisi hidup ini dengan ibadah.
Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku”. (Qs. adz-Dzariyaat :56).
Akan tetapi ibadah yang dimaksudkan dalam ayat ini bukanlah semata-mata berbentuk kegiatan ritual, karena ibadah dalam Islam dalam maknanya yang luas tidak hanya mencakup ibadah ritual belaka, melainkan terkait dengan semua kegiatan hidup sehari-hari yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.
2.    Menjalin hubungan yang baik dengan Allah.
Merupakan suatu keharusan mutlak bagi setiap muslim untuk menjalin hubungan baik dengan Allah, sehingga setiap Muslim akan merasa dekat dengan-Nya. Bila hubungan itu sudah terasa dekat, maka di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi dan bagaimana pun situasi dan kondisi yang dihadapinya, seorang muslim akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Kalau perasaan ini sudah tertanam pada jiwa manusia, maka dia tentu tidak berani menyimpang dari jalan Allah.
3.    Menjalin hubungan baik sesama manusia.
Allah berfirman, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,...”. (Qs. Ali Imran : 112).
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri-sendiri, setiap manusia pasti membutuhkan kepada manusia lainnya. Karena demikian manusia harus menjalin komunikasi yang inten dan hubungan yang baik antara semamanya. Islam melarang manusia saling bermusuhan, saling mengadu domba, memfitnah, menggunjing, mencaci maki, mengupat, membuka aib saudaranya sampai pada iri hati, dengki dan lain sebagainya yang merupakan aktivitas hati.
Sebaliknya, manusia diharuskan agar senantiasa berbuat baik antara sesama, menjalin persaudaraan, menjaga persatuan dan kesatuan, selalu tolong menolong dalam kebaikan, sayang-menyayangi, bahu-membahu, saling memberikan hadiah.
4. Senantiasa berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah.
Al-Quran dan Sunnah merupakan pedoman dalam perjalanan hidup manusia. Barangsiapa yang berpegang kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya. Ibarat pelaut, Al-Quran dan Sunnah itu merupakan kompas yang menunjuki arah perjalanan. Apabila dua pedoman ini diabaikan, maka seorang muslim akan tersesat dari jalan hidup yang benar. Sebaliknya, bila pedoman ini di pegang erat-erat, niscaya seorang Muslim tidak akan berhasil disesatkan oleh setan dan para pengikutnya dari jalan hidup yang benar.
5. Mencari ridha Allah SWT.
Allah berfirman, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”, (Qs. Al-Baqarah : 207).
Agar seorang Muslim bisa mencapai ridha Allah, maka dia harus tetap berada di jalan yang lurus. Artinya, kehidupan ini harus dijalani sesuai dengan jalan Ilahi, Allah berfirman, “Dan bahwa  adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Qs. al-An’am : 153).
6. Berjihad dan berkorban di jalan Allah.
Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (Qs. at-Taubah : 20) Dalam konteks perjuangan di jalan Allah, pengorbanan menjadi sangat penting karena memang tidak mungkin perjuangan dapat berjalan dengan baik tanpa pengorbanan yang dilakukan oleh kaum Muslimin.
7.  Tidak melakukan kesalahan atau maksiat.
Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik Islam seseorang adalah yang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat”. (HR. Tirmizi dan Baihaqi). Dan dalam literatur turats disebutkan, “hari yang paling besar dalam hidup dan kehidupan seseorang adalah hari di mana dia tidak melakukan kesalahan dan maksiat sekecil apapun sehingga tidak ditulis atasnya pada hari itu dosa”.

8. Memanfaatkan waktu untuk berbuat taat.
Waktu merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan, namun banyak manusia di dunia ini yang mengabaikan pemanfaatan waktu dengan baik. Waktu yang diberikan Allah kepada seseorang sepanjang hidupnya di dunia merupakan amanah yang perlu dijaga dan dimanfaatkan untuk berbuat taat kepadaNya.
Karena pentingnya pemanfaatan waktu maka Allah bersumpah dalam Al-Quran dengan firmanNya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Qs. al-‘Ashr : 1-3)
9.    Mencari kebahagian untuk kehidupaan di akhirat.
Akhinya, poin yang paling penting dari seluruh uraian di atas dalam mengisi kehidupan sesuai ajaran Islam adalah bagaimana kita bekerja keras untuk memperjuangkan nasib kita di akhirat kelak. Kalau bukan di kehidupan dunia ini kita melakukannya lalu di mana lagi, dunia adalah tempat bercocok tanam untuk akhirat.
Intisari Khutbah
Al-Quran dalam menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga dan berlomba dalam kekayaan, anak keturunan dan lain sebagainya. Kemudian mengumpamakan itu semua dengan tanam-tanaman yang pada awalnya mengagumkan petani kemudian menjadi kering dan hancur. Ayat tersebut ditutup dengan ungkapan “kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. Satu hal yang paling menakutkan adalah ayat ini disertai dengan ancaman bahwa di akhirat kelak ada azab yang keras, meskipun ada ampunan dan keridhaan Allah.
Oleh karena itu bisa dimengerti kenapa kita sebagai muslim yang meyakini kebenaran semua informasi yang datang dari Allah harus mengisi kehidupan ini sesuai dengan ajaran Islam. Karena hanya orang-orang yang hidup di dunia ini di bawah tuntunan dan petunjuk agama sajalah yang akan mendapat ampunan Allah dan keridhaan-Nya di akhirat kelak, selain itu akan mendapat azab yang keras dari-Nya.
Jika manusia hanya menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia semata, maka mereka benar-benar menjadi orang-orang yang rugi di hari akhirat nanti. Karena itu, dalam banyak ayat Al-Quran manusia diingatkan agar senantiasa mempersiapkan bekal di kehidupan dunia yang singkat ini untuk kebahagiaan hari esok.

Memaknai Hakikat Kehidupan
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA. dalam rubrik Sosial Pada 12/12/14 | 12:24
dakwatuna.com – Allah Ta’ala berfirman di dalam surat Ar Ruum ayat 40:

“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”

Seseorang tidak kuasa untuk menentukan kehadirannya di dunia, ia juga tidak bisa memilih untuk terlahir dalam keluarga, keadaan ekonomi, sosial dan budaya tertentu. Pada hakikatnya proses penciptaan manusia berawal dari ketiadaan menjadi ada, kendati demikian prosesnya, penciptaan manusia tidaklah lebih besar daripada penciptaan langit dan bumi sebagaimana tertuang dalam penjelasan Alquran.

“ Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS Ghaafir ayat 57).

Allah Ta’ala senantiasa memberi rezeki kepada setiap makhluk-Nya, rezeki-Nya amat luas, tidak terbatas pada materi melimpah, melainkan bisa juga berupa nikmat-nikmat berharga lainnya yang ada di sekitar manusia, di antaranya:

Hidayah
Ketenangan hati
Kelapangan dada
Kesehatan
Keadaan menyenangkan
Waktu luang
Jiwa yang kaya karena senantiasa merasa cukup
Anak-anak yang shalih
Kehidupan yang layak
Menantu dan mertua yang bijak
Jodoh idaman dan lain-lain
Dalam ayat lain dikuatkan bahwasanya Allah Ta’ala sebenar-benar pemberi rezeki:

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu.Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS Thahaa ayat 132).

Ditambahkan di beberapa ayat lainnya:

Alquran surat Faathir ayat 3
Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi ?
Alquran surat Al Israa’ ayat 31
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.
Alquran surat Adz Dzaariyaat ayat 58
Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.
Al-Quran surat Saba’ ayat 39
dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
Allah Ta’ala ialah Dzat yang Maha Kaya dan Suci dari segala kekurangan, sekalipun semua manusia di muka bumi kufur kepada kepada-Nya, hal ini sama sekali tidak menjadikan Allah Ta’ala menjadi miskin.

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu”. (QS Az Zumar ayat 7).

Maksud yang terkandung dalam ayat ini ialah manusia beriman atau tidak, beriman, hal itu tidak merugikan Tuhan sedikitpun. Pesan Ilahi ini senada dengan perkataan nabi Musa ‘alaihi assalam yang diabadikan dalam Alquran di surat Ibrahim ayat 8.

“Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Jika kita renungi akan hakikat sebuah rezeki, pada dasarnya semua yang ada di muka bumi, di dalam lautan dan di dasar bumi adalah milik Sang Maha Kaya dan Sang Maha Terpuji.

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS Luqman ayat 26).

Adapun sesuatu yang seseorang miliki berupa isteri, anak, materi, jabatan, umur, waktu, kebanggaan dan lain sebagainya merupakan hanya sebatas titipan, bersifat sementara, kenapa demikian?

Karena dalam sebuah kehidupan tiada yang abadi menemani hidup seseorang kecuali amal shalihnya, apa saja yang ada pada seseorang kelak akan lenyap bak butiran pasir yang terhempas oleh tiupan angin, tak berbekas sedikitpun, begitulah hakikat kehidupan.

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Sesungguhnya Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An Nahl ayat 96)

Jika seseorang sudah memahami akan hakikat kehidupan, maka ia akan berpikir tidaklah ada yang patut untuk dibanggakan selain amal shalehnya, hal ini didasari atas kehadirannya di dunia ini, bukanlah karena permintaannya.

Dalam sebuah ungkapan bijak:

Sungguh tercela, kau bangga dengan sesuatu yang tidak pernah diperbuat oleh dirimu……
Jangan kau bangga dengan kecantikan/ketampananmu karena kau bukanlah yang menciptakannya…….
Jangan kau bangga dengan nasab keturunanmu karena kau bukanlah orang yang memilihnya…..
Namun banggalah dengan akhlakmu karena dirimu yang menghiasinya…!!
Sehebat apapun manusia, ia sekali-kali tidak akan kuasa untuk mengatur penempatan garis keturunannya, apakah akan terlahir dari keturunan bangsawan atau biasa-biasa aja, keturunan agamis atau dari kalangan umum, kenapa demikian?

Karena hal ini adalah kehendak Allah Ta’ala, bukan kehendak manusia seutuhnya.

Seorang muslim seyogyanya pandai untuk menempatkan diri dalam mengatur kehidupannya, pandangannya jauh ke depan, mempunyai cita-cita dan mimpi besar berorientasi akhirat, ia tidak berpikir untuk dirinya sendiri melainkan berpikir untuk bisa memberi manfaat kepada sesama, sebagai contoh:

Hartawan membantu dengan materinya
Pemangku kepentingan membantu dengan kebijakannya
Cendekiawan membantu dengan keilmuannya
Pada umumnya seseorang mempunyai kelebihan yang diberikan Allah Ta’ala  padanya, disatu sisi ia mempunyai kekurangan, tapi di sisi lain ia memiliki kelebihan yang bermanfaat bagi sesama, pertolongan Allah Ta’ala sangat beragam kepada hamba-hambaNya, di antaranya:

Dibuka/dicerahkan pikiran
Disehatkan jiwa dan raga
Diberikan kesejukan dan ketenangan hati
Munculnya rasa tanggung jawab
Hidup menjadi lebih bergairah dengan kasih sayang
Menjadi lebih produktif
Semakin bijak dan dewasa dan lain-lain
Dengan memahami hakikat penciptaan, seseorang akan mantap untuk melangkah lebih jauh dalam mengarungi derasnya arus kehidupan, ia akan pandai memilih dan memilah seorang sahabat yang senantiasa mengingatkannya ketika ia lalai dan senantiasa mendoakannya.

Mereka bagaikan bintang-bintang yang terus menerangi/membimbing jalan perahunya saat cahayanya mulai meredup di tengah luasnya samudera kehidupan yang ia lalui, sahabat dari kalangan shalih, sesungguhnya jika ia tidak sedang berada bersamanya, mereka merasa seperti (ada ruang kosong di hatinya) kehilangan sosoknya dan pada hari esok di saat semua manusia sudah diputuskan perkaranya di bawah ‘Ars Ar-Rahman, merekapun senantiasa menunggunya.

Inilah alasan seseorang harus pandai dalam memilih sahabat yang mencintainya karena Allah, karena ia akan dibimbing dalam mengetahui hakikat kehidupan.

Jumat, 15 Maret 2019

Doa

Dihilangkan keburukan yang akan menimpa dia .
Mampu dan / tidak mampu.
Mulia

Diberi pekerjaan yang layak
Diberi istri yang sholehah
Di beri usaha yang lancar
Diberi rejeki yang melimpah
Diberi kesehatan
Senantiasa dalam naungan hidayah
Di beri rumah

Minggu, 10 Februari 2019

Experience, pengetahuan, the best .

Ketetapan Allah Adalah Yang Terbaik
Noviyardi Amarullah Tarmizi 10 March 2016 1 Comment

Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai diharapkan, terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang landai. Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa, inilah tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan ini, Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).

Di antara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi dimana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi terwujudnya impian itu. Tetapi tanpa disadari hal itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika hal seperti ini terjadi, tak sedikit orang yang menyalahkan pihak lain, bahkan Allah, Rabb yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya pun tak luput untuk disalahkan. Orang-orang seperti ini, hendaknya mengingat sebuah firman Allah:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Ayat ini merupakan kaidah yang agung, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan, yaitu iman kepada qadha dan qadar. Musibah-musibah yang menimpa manusia semuanya telah dicatat oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Meletakkan ayat di atas sebagai pedoman hidup akan membuat hati ini tenang, nyaman dan jauh dari keresahan. Andai kita mau kembali melihat lembaran-lembaran sejarah di dalam Al-Qur’an, membuka mata tuk mengamati realita yang ada, niscaya kita akan menemukan pelajaran-pelajaran dan bukti yang sangat banyak. Bukti yang menunjukkan bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik, di antaranya adalah:

Kisah ibunda Nabi Musa ‘alaihissalam yang menghanyutkan anaknya di atas laut. Lihatlah, kecemasan dan ketakutan yang luar biasa menginggapi saat mengetahui anaknya berada di tangan keluarga raja Fir’aun. Tetapi, tanpa diduga tragedi itu berbuah manis di kemudian hari.
Perhatikan pula dengan seksama kisah hidup Nabi Yusuf ‘alaihissalam, maka kamu akan menemukan bahwa kaidah ini cukup menggambarkan drama mengharukan antara Nabi Yusuf dan sang ayah, Nabi Ya’qub ‘alaihimassalam.
Lihatlah kisah bocah laki-laki yang dibunuh oleh Nabi Khidir ‘alaihissalam atas perintah langsung dari Allah. Apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir itu membuat Nabi Musa ‘alahissalam bertanya-tanya, maka Nabi Khidir pun memberikan jawaban yang kata-katanya diabadikan di dalam al-Qur’an.
وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا (80) فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا (81)

“Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (QS.Al-Kahfi: 80-81).

Renungkan pula kisah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang ditinggal wafat oleh suaminya Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha  berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan doa yang diperintahkan oleh Allah:Allah:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, limpahkan pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku dan berikanlah gantinya yang lebih baik.’Kecuali Allah akan member gantinya yang lebih baik.’ Ummu Salamah berkata, Ketika Abu Salamah meninggal dunia aka bertanya,’Siapa di antara seorang mu’min yang lebih baik dari Abu Salamah?! Siapakah penghuni rumah yang pertama kali hijrah kepada Rasulullah?! Kemudian aku mengucapkan doa di atas. Lalu Allah menggantikannya dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda. (HR. Muslim no. 918).

Demikianlah Ummu Salamah menjalankan apa yang diperintahkan untuk dilakukan saat menerima musibah; bersabar, membaca istirja’  (kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan mengucapkan doa di atas, maka Allah menggantinya dengan yang terbaik, yang tidak ia bayangkan sebelumnya.

Inti dari semua ini adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang penyair,

عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يَسْعَى إِلَى الْخَيْرِ جُهْدَهُ

وَلَيْسَ عَلَيْهِ أَنْ تَتِمَّ الْمَقَاصِدُ

Seseorang seharusnya berusaha sekuat tenaganya mendapatkan kebaikan

Tetapi, ia tidak akan bisa menetapkan keberhasilannya

Segala sesuatu yang terjadi pada seorang muslim dan hal tersebut tidak sesuai dari apa yang diharapkannya adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya. Ujian itu hadir dengan tujuan menuntut mereka menuju kesempurnaan diri dan kesempurnaan kenikmatan-Nya. Jangan buru-buru mencela musibah yang Allah berikan, yakinlah ketetapan Allah adalah yang terbaik. Allah juga berfirman:

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

Wallahu A’lam.

***

Referensi: Qawa’id Quraniyyah 50 Qa’idatan Quraniyyatan Fin Nafsi wal Hayat. Cetakan ketiga, tahun 1433 H. Dr. Umar bin Abdullah Muqbil. Markaz Tadabbur. Riyadh.

Akhukum Noviyardi Amarullah Tarmizi

STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

28 Jumadal Ula 1437 / 8 Maret 2016

Artikel Muslim.or.id

Apa yang membuat Edison dapat bertahan dalam kegagalannya? Apakah dia tidak bosan dengan kegagalan yang berulang-ulang kali dialaminya?

“Dengan kegagalan tersebut, saya malah mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala,” demikian Thomas Alva Edison pernah mengatakan.

kuatnya kepercayaan diri dan tantangan kehidupan, sangat mempengaruhi pikiran seseorang hingga membuatnya berpikir positif dan melahirkan keyakinan positif tentang diri dan kemampuannya.

Berbaik Sangka

Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan manusia dengan struktur yang paling baik di antara makhluk Allah Subhanahu Wata’ala lainnya.

Untuk itulah, manusia berkewajiban untuk berusaha dan terus menerus berdoa kepada-Nya.Serta memantaskan diri untuk mendapatkan pertolongan dari Allah.

Abu Hurairah ra, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Cara berpikir positif dalam Islam adalah dengan berhusnudzan (berbaik sangka) kepada Allah.

Meyakini bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah subhanahu Wata’ala karena kekuasaan-Nya yang tidak bertepi dan tidak terbatas. Allah yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata saja yang tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Seorang hamba yang mersa dekat dengan Allah harus tetap berbaik sangka kepadaNya.Bila nikmat Allah berupa keberhasilankita sambut dengan penuh rasa syukur, maka pahala bagi kita. Bahkan jika musibah berupa kegagalan datang tiba-tiba, namun kita bersabar menjalaninya maka itupun menjadi ladang kebaikan dan pahala bagi kita.Tinggal bagaimana kita berbaik sangka kepada Allah atas segala persoalan yang kita hadapi baik berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Dari sini kemudian terlihat bahwasanya apapun masalah yang kita hadapi pasti ada jalan keluar melalui pintu spiritual.

Ilmuwan Amerika, Wayne W. Dyer penulis buku 10 SecretS for Success and Inner Peace pernah mengatakan, “Di pintu Spiritual terdapat jalan keluar dari semua persoalan.”

Menanggapi pernyataan tersebut, Dr. Ibrahim Elfiky membenarkan. Dalam bukunya ia mengemukakan bahwa seseorang yang mengindahkan aspek spiritual, selalu bersikap positif dan tawakkal kepada Allah dalam menghadapi setiap persoalan.

Dengan begitu, ia mampu mewujudkan impian hidup dan menjalaninya dengan ketentraman batindalam setiap aspek kehidupan. Allahul Musta’an.*/Mustabsyirah Syammar

Rep: Admin Hidcom

Berpikir positif
Menempatkan diri

Menerima
Belum waktunya/diganti dengan yg lebih baik

Demi kebaikan maneh irfan