Sabtu, 20 Agustus 2016

Allah.

Petunjuk arahan bimbingan .

Big picture (iman, akherat, agama) .

Menegaskan bahwa dalam hidup ada hitam ada putih, ada baik ada buruk, ada nikmat ada musibah, hidup tidaklah abu-abu, tetapi memang memiliki dualitas namun tidaklah mengacu pada satu sisi (dijadikan salah satu tujuan), tetapi justru keadaan tersebut memang saling bertujuan untuk pencapaian yang sesungguhnya, yaitu ridha allah .

Memiliki kesadaran akan pengetahuan tersebut membuat kita memiliki pemikiran yang lebih terbuka dalam menyikapi keadaan dan menerima kenyataan .

Dan kedua sisi tersebut juga tidak mendefiniskan makna sesungguhnya dari apa yang di artikan sesuai penamaanya, bahwa hidup harus mencapai kebahagiaan duniawi dan terhindar dari kesengsaraan dunia, melainkan bertujuan untuk kemulian di masa yang akan datang setelah kematian .

Maka dari itu sikap kita sebagai hamba-NYA hanyalah berusaha untuk mengendalikan diri sesuai tuntunan dan aturanya dalam menjalani hidup menjadikannya sebagai ladang pahala, sehingga melihat berbagai situasi dalam pandangan yang positif .

Maneh boleh kecewa ka diri maneh, tapi setidakna lakukan sesuatu karena allah .

Allah memaafkan dosa kita dengan berbaik sangka kepadanya .

Cari kedudukan di sisi allah .

Putus berharap kecuali hanya berharap dari allah .

Makna dari ujian
Hikmah
Mengeluh
Kaya akan nikmat
Bersyukur atas hikmah ujian
Dan kelebihan nikmat yang lain
Mati, hidup sementara, sugan we pahala atau amal-amalan urang teh emang bener2 ka ala .
Bekal .

Hikmah
Allah
Irfan
Dunia
Takdir
Ujian

Jangan menyerah selagi kita  masih punya allah .

Mengingat allah berbagai sudut pandang berdoa ujian

Ingat semua pertolongan allah, itu jadi yakin kita sama allah .
Saya senang mengingat masalah itu, mengingat pertolongan allahnya .
Sayangnya itu Kita jarang mengingat karunia allah justru yang di ingat itu yang belum ada, yang di di ingat itu yang belum punya , jadi stress, jadi ke allah itu jadinya curiga aja . Karena yakin allah itu maha baik, puluhan tahun rejeki itu tetap ada, masalah ada jalan keluarnya .

Mengingat yang allah berikan jadinya pede menghadapi hidup ini .

Berbaik sangka, berburuk sangka kepada allah .

Kuasa allah .

Karena allah, ada allah dan rahmat allah .

Beriman kepada allah.
Fokus beramal.
Pertolongan allah.
Melihat ujian orang lain.
Taubat dari sifat munafiq.

Memburu pertolongan allah
Ladang amal
Lakukan - lupakan

Tenang
0.libatkan allah
1.lahaulla kiwatta ila billah
2.kaya akan nikmat (membaik)
3.memiliki allah
4.syukuri nikmat yang masih ada
5.ada dosa yang tidak bisa di hapus dengan istighfar
6.menyikapi penyakit dengan positif
7.pertolongan allah jangan putus asa .
8.hanya allah maha luas rahmatnya,allah s.w.t tidak ingin mencelakakan hambanya.
9.minta tolong kepada allah .
10.punya allah .
11.manusia banyak tidak tahunya .
12.sementara .
13.kumaha allah, ikhlas .

1.menjalankan amanah allah bukan untuk menilai orang lain .
2.bersyukur atas nikmat allah .
3.bersyukur dari kedualitasan kesyukaran .
4.jangan overthinking, segala sesuatu terjadi karena allah .

Memaknai .

Kesempatan .

Rejeki allah yang nentuin .

Jangan banyak berharap pada manusia, menerima kenyataan = stress dan cape
Sabar = pemahaman, kesadaran
Mengeluh = nikmat yg di dapat
Menyalahkan diri = faktor luar
Membandingkan = taat

Kitu kieu aya/ku allah .

Tong kasieunan hirupmah .

Tawakal dan Yakin Akan Mendapatkan Yang Terbaik

Setelah Anda berusaha sebaik mungkin, maka langkah selanjutnya agar terbebas dari stress adalah tawakal (serahkan hasilanya kepada Allah) dan memiliki keyakinan yang mantap bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan memberikan yang terbaik bagi Anda. Inilah cara mengurangi stress yang paling mujarab.

Mungkin, jika Anda masih suka mengalami stress atau sering, sejauh mana Anda tawakal dan yakin akan mendapatkan yang terbaik dari Allah.

Jika kita benar-benar tawakal, kita yakin Allah akan membantu, menolong, mengarahkan, dan membimbing setiap langkah kita. Jika kita sudah mewakilkan kepada Allah, maka apa lagi yang harus kita khawatirkan?

Dan kita yakin, semuanya akan baik-baik saja karena Allah akan memberikan yang terbaik bagi kita.

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310)

Memang benar, tidak semua orang stress gara-gara uang. Yang dimaksud rizki juga tidak hanya uang, semua nikmat itu adalah rezeki, kesehatan, kesembuhan, kebugaran, terbebas dari kecelakaan, dan nikmat-nikmat lainnya adalah rezeki.

Anda tidak perlu khawatir dengan semua itu, jika tawakal + ikhtiar tetap Anda lakukan, maka semuanya akan baik-baik saja.

Mengingat Allah

Dzikir, shalat, dan membaca Al Quran adalah cara ampuh untuk mengurangi stress.

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra`du:28)

Sejauh mana Anda sering berdzikir? benar-benar berdzikir sampai ke hati, bukan hanya di lisan saja namun hati lalai. Lihatlah setelah shalat Anda, apakah Anda buru-buru saat berdo’a?

Apakah Anda suka bangun malam untuk shalat tahajud dan membaca Al Quran?

Cara mengurangi stress itu, dekat Allah dan selalu mengingat-Nya. Lihat diri saat ini, sejauh mana kita dekat dengan Allah?

Keselamatan akheratmu .

Percaya rencana allah lebih baik .

Nu usaha wae can tangtu menang, komo nu heunteu.

Beri yang terbaik ya allah .

Jangan mengimani ikhtiar, tuhan menguji keyakinanmu .

Jalan Terang Menuju Kebahagiaan Hidup (1)
By Eva F Hasan  Last updated 11 Oktober 2017
0
Share
Advertisements
SIAPA sih yang tidak ingin bahagia? Tentu semuanya ingin merasakan bahagia. Kebahagiaan menjadi tujuan dalam menjalani hidup ini. Kebahagiaan hidup adalah suatu gembok yang harus dibuka. Maka, kita perlu mencari kunci yang pas, untuk membuka gembok itu. Di sinilah, kita harus mencari jalan terang untuk menuju kebahagiaan hidup.

Allah SWT berfirman, “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka’,” (QS. Al-Baqarah: 201).

Ayat ini berisi suatu doa yang pali baik untuk senantiasa dipanjatkan.

Pertama, memohon kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Kedua, memohon dijauhkan dan dihindarkan dari siksaan neraka. Jadi intisari doa ini ialah kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Agama Islam telah memberi petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat ada dua jalan yang harus ditempuhnya. Yakni, mengerjakan amal shaleh (perbuatan-perbuatan yang baik) karena Allah dan berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah SAW. Dan mengikuti jejak Rasulullah untuk mendapatkan petunjuk, kebaikan dan keselamatan.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu,” (QS. Al-Ahzab: 21).

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Adapun akhlak yang mulia itu, yaitu:

Pertama, amal shaleh suatu perbuatan yang positif yang dapat memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang yang mengerjakannya dan juga kepada orang lain (masyarakat). Yang akan mendapatkan penilaian dari Allah SWT dan Rasul-Nya serta orang mukmin lainnya.

Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan’,” (QS. At-Taubah: 105).

RELATED POSTS
Menggapai Hidup Penuh Berkah
1 tahun lalu
Segala Sesuatunya akan Kembali pada Diri Kita Sendiri
1 tahun lalu
Jalan Terang Menuju Kebahagiaan Hidup (2-Habis)
1 tahun lalu
Orang yang Berpaling, Hidup Terasa Sempit
1 tahun lalu
PREV  NEXT  1 of 3

Di antara amal-amal shaleh yang harus dilakukan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, di antaranya:

1. Taat kepada Allah. Dengan taat dan patuh kepada Allah di dalam menjalankan segala ajaran dan petunjuknya maka akan meraih kebahagiaan dunia akhirat (takwa).

2. Mengakui keagungan Allah, dengan sikap merendahkan diri dan mengakui akan kebesaran Allah dan kekuasaannya, maka akan mendapat kemuliaan.

3. Mengharap kasih sayang Allah. Senantiasa mensyukuri pemberian Allah, yang merupakan kasih sayang Allah sebagai harapannya.

4. Berpegang teguh kepada petunjuk Allah. Orang akan selalu merasa memperoleh petunjuk dalam hidupnya, karena senantiasa berpegang teguh pada tali agama Allah.

5. Mengharap ridha Allah. Senantiasa perilakunya, sangat hati-hati dalam menjalankan sesuatu bagi kehidupannya hanya keridhaan-Nya yang diharap dari Allah SWT.

6. Mendekatkan diri kepada Allah (bertaqaraub) hidupnya senantiasa mendekatkan diri pada Allah walau di mana pun berada, hanya Allah yang dekat dengannya.

7. Ikhlas dan cinta kepada Allah. Apa yang dia lakukan senantiasa ikhlas karena Allah, karena dia cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Maka hatinya akan senantiasa bahagia tenteram mempunyai jiwa yang besar menerima ujian Allah sekalipun.

Orang-orang yang mengerjakan amal shaleh akan mendapat pembalasan yang nyata di akhirat nanti. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki mapun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun,” (QS. An-Nisa: 124).

Dan Allah telah menyediakan kenikmatan yang lengkap dalam surga. Tersirat dalam firman Allah,”Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,” (QS. Al-Baqarah: 25).

RELATED POSTS
Menggapai Hidup Penuh Berkah
1 tahun lalu
Segala Sesuatunya akan Kembali pada Diri Kita Sendiri
1 tahun lalu
Jalan Terang Menuju Kebahagiaan Hidup (1)
1 tahun lalu
Orang yang Berpaling, Hidup Terasa Sempit
1 tahun lalu
PREV  NEXT  1 of 3

Kedua, manusia harus mengikuti jejak Rasul

Keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia maupun akhirat tergantung semata-mata kepada kesetiaan dan ketaatan. Serta kepatuhan terhadap Rasul-Nya. Sebaliknya kesengsaraan, kegelisahan hati, jiwa menderita tergantung kepada keingkaran dan kebohongan menusia terhadap Rasul-Nya.

Rasulullah SAW menjamin umatnya masuk surga. Kecuali mereka yang ingkar terhadap ajarannya.

Ada empat azasnya

1. Azas aqidah. Aqidah yang benar meyakini hanya Allah segalanya yang telah menciptakan alam semesta. Kepada-Nya lah kita menyembah dan akan kembali. Azas aqidah ini laksana akar pohon jika rapuh, maka akan timbang pohon itu, Begitu juga sendi-sendi kehidupan manusia akan rusak.

2. Azas ibadah. Merupakan perpaduan antara keyakinan dan amalan yang nyata. Shalat. puasa, zakat, dan sebagainya.

3. Azas akhlak. Yang dapat memadukan kedua hubungan, baik habluminallah, habluminannas (etika berbicara, makan, bergaul, bertamu, jual beli, dan sebagainya).

4. Azas al-wala wal bara. Inilah dari seluruh tujuan yang dicanangkan dalam penanaman akidah dalam setiap pribadi azas ini menjadi barometer/ukuran utama dalam menilai keperibadian setiap muslim. Itulah yang dicontohkan Rasulullah SAW yang akan membawa kita menuju surga Allah. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam,” (QS. Al-Anbiya: 107).

Sumber: Ringkasan Risalah Dakwah/Karya: Kurniati/Penerbit: Arsad Press

Ipanteh punya allah .

Prosedural ? Benar benar berperan ! Skema .
iman kita pd tuhan. saat kita terpuruk, saatnkita ngrasa g ada orng yg bisa bntu, qt ingat, ada tuhan tempat kita bergantung, tuhan g akan meninggalkan hambanya yg sedang kesusahan, percaya, tolong .

Atas izin allah .

Ku allah di atur sesuai situasi dan kemampuan .

Luruskan niat .

Naha urg ni asa d pke rudet ku pedah t boga gawe, Padahal karek nganggur dua minggu nya wajar, Bari jeung kaayaan boga duit,Malah aya tungguan kneun, Tp ni asa jd beban, Da mereun ari nggeus ku sareat namah ari geus miliknamah pasti aya, Sing horeng wkaka, Urg teh ngabebankeun bahwa hirup teh kudu neang duit, Padahalmah hirup teh jang ibadah, Asal urg nu pentingmah ibadah jalan, Da milikmah pasti nuturkeun, Jadi mindset urgteh, Gawe jang ibadah, Otomatis urg t gaweteh asa jd beban, Padahalmah ibadah mah ibadah we da hirupmah nu pentingmah ibadah, Masalah t gawemah, da geus d milikan, kari urg nuturkeun jalanna .

Hidup untuk bekerja .

Mintalah tuhan untuk menjaga anda .
Maha menolong .
Yang terbaik .

Pertolongan allah .

Intinamah kudu husnudzon ka gusti ALLAH.

Hanasmah riweuh2 menghakimi diri sendiri pekteh emang sesuatu anu di luar kuasa urang.

It's just me or a joke.

Tanggung jawabnya sama.

Innalillahi wainna ilahi raji’un, kita sebagai umat yang bariman tidak sepatutnya mengeluh dan suu’dzon kepada Allah, alhamdulillah kita hanya kehilangan uang, yaitu harta yang bisa dicari, bagaimana kalau kita sampai kehilangan aqidah wahai saudaraku, naudzubillahimindalik.

Irfan hirup teh panjang keneh, mun teu poe ayeuna berarti poe isuk, mun teu ayeuna berarti ngke percaya we bakal.

Nikah.

Sabenernamah teu masalah urangmah teu boga kabogoh, nu jadi masalahmah mun urg salah milih kabogoh komo pamajikanmah. Da barinage moal aya anu embung-embung teuing ka urg ath. Komo lamun urgna geus sabari memantaskan dirimah. Ibaratnamah penampilan. Pekerjaan. Perilaku. Akhlak. Ieumah urgna we nu asa can manggih nu cocok. Da sabenernamah kadang hirupmah urg sorangan nu mempersulit. Meskipun Jodoh geus aya nu ngatur. Kari urg nu usahana. Meskipun urg ayna kasebutna pilih-pilih. Nya da perlu milihmah da piraku urg rek asal capluk komo urg ngalaman pernah di nyeuri hatekeun ku awewe. Tapi rek urg pilih-pilih ge ibaratnamah ari emang geus waktuna atau emang jodona. Rek d heunteu-heunteu ge. Ari emang jodohnamah nya jadi we.

Rek nu bageur atau nu teu bageur ge menikah itu punya tanggung jawab yang sama. Bukan beban yah tapi tanggung jawab.

Kamu menikah atau punya pacar tidak serta merta membuat hidup lebih mudah, justru disitulah babak kehidupan baru dimulai, tanggung jawabmu bertambah.

Bukan berarti melarang kamu untuk menyegerakan menikah, hanya saja justru saat-saat seperti ini harus kamu jadikan kesempatan sebagai/untuk mempersiapkan diri sebelum waktunya tiba.

Justru yang jadi masalah adalah kamu memandang buruk keadaanmu yang masih tengah sendiri di banding dengan teman-temanmu yang telah melaksanakan pernikahan. Padahal pernikahan bukanlah tolak ukur kebahagiaan seseorang, harga diri seseorang tidak di tentukan oleh apakah dia sudah berpasangan atau tidak. Pernikahan hanyalah sarana ibadah bagi kita untuk mencapai kemuliaan hidup yang sebenar-benarnya dengan mengharapkan ridha dan berkah dari ALLAH S.W.T.

Maka dari itu selagi masih sendiri, gunakanlah waktu, tenaga serta pikiranmu dengan sebaik-baiknya, perbaiki akhlakmu, tingkatkan keimananmu, koreksi diri jika masih ada yang kurang-kurang maka di benahi, perhatikan orang tua yang sudah tidak lagi sekuat dahulu yang lebih butuh diperhatikan, berbagi dan membantu saudara yang membutuhkan, perbanyak ibadah, sholat, dzikir,  sedekah, mengaji dan amal-amalan yang lainnya sehingga waktu penantian kita untuk dipertemukan dengan pasangan ataupun jodoh kita tanpa terasa tiba pada waktunya. Karena jika ALLAH berkehandak tidak ada satupun yang bisa menghindar, ALLAH sudah mengatur jodohnya masing-masing, jika waktunya sudah tiba kita tidak akan bisa mengelak, ALLAH telah mengatur segalanya bahkan bisa jadi jodoh kita akan datang dengan kejadian yang tak di sangka-sangka.

Maka dari itu kita selagi umat muslim, biasakanlah untuk berkhusnudzon pada takdir ALLAH, ALLAH tidak pernah berniat menjerumuskan umatnya, selama umatnya senantiasa berdoa dan mengharap pertolongan, hidayah serta perlindungan dari ALLAH.

Rencana tuhan selalu lebih baik daripada rencana manusia, karena

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

Berarti kamu nggak percaya sama rencana tuhan .

Kitu kieu sajadina we.

Da allah nu ngatur.

Allah yang mengatur.

Bahkan dengan dzikir “Allahu Akbar” pun seharusnya menjauhkan kita dari putus asa karena Allah Maha Besar sehingga masalah yang kita hadapi itu jadi kecil. Saat kita membaca surah Al Ikhlas pun seharusnya menjauhkan kita dari putus asa, karena kita diingatkan bahwa Allah tempat kita bergantung.

Ada banyak do’a sebenarnya, bahkan sebenarnya semua do’a akan menjauhkan kita dari putus asa. Diantaranya:

“Rabbanaa atinaa miladunka rahmat wahayi’lana min amrinaa Rasyadaa”

Artinya: Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.

(QS. Al-Kahfi: 10).

“Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul. hazna idza syi’ta sahlaa”

artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau. menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Do’a yang dipanjatkan berdasarkan ayat itu adalah: “La illaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazhalimin” (silahkan lihat tulisan Al Qurannya).

Sehingga pada ayat berikutnya:

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya’: 88)

Jika Anda Belum Berhasil, Mungkin Ini Hikmah atau Maksudnya
Bagi orang yang beriman, sebaiknya kita kembalikan saja kepada Allah SWT. Kita yakin dibalik kesulitan yang kita hadapi ada hikmah yang belum kita ketahui. Misalnya bisa saja Allah memang memperlambat dalam mengabulkan do’a kita seperti dikatakan dalam sebuah hadits:

Tidak ada seorang Muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdo’a, kecuali Allah memberikannya (memenuhinya), kadang dipercepat dan kadang diperlambat. (HR Ahmad dan Hakim)

Atau bisa saja apa yang kita harapkan memang tidak baik bagi kita.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah:216)

Bisa juga merupakan ujian kepada Allah karena kita termasuk orang yang beriman.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al ‘Ankabuut:2)

Mungkin sengaja Allah simpan untuk diakhirat nanti.

Tidak ada seorang Muslim pun yang berdo’a dengan suatu do’a yang bukan do’a menyangkut dosa atau menyangkut memutuskan silaturahim, kecuali Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan: segera dipenuhi-Nya do’a tersebut, atau disimpan-Nya sebagai simpanan pahala di akhirat, atau dihindarkan-Nya dia dari kecelakaan atau kejelekan yang sebanding. Mereka (para sahabat) bertanya: bagaimana kalau kami memperbanyak? Rasul menjawab: Allah akan memperbanyak lagi. (HR Ahmad, Bazzar, Abu Ya’la, dan Hakim)

Bagaimana Jika Terus-Menerus Tidak Berhasil?
Sekali lagi, kita bisa mengembalikan kepada hikmah dan maksud Allah yang tersembunyi dari tertundanya tujuan kita. Namun, lebih sering penyebabnya karena orang tidak sabar menunggu hasil. Lama, sulit, dan berat adalah keluhan-keluhan yang sering keluar dari mulut orang yang berpikiran negatif. Mereka berharap semua serba instan, jika perlu waktu sedikit saja mereka mengeluh.

ganti dengan kenangan-kenangan kemenangan dan keberhasilan. Rasakan bagaimana bahagianya, rasakan bagaimana senangnya, dan bersyukurlah.

Yang perlu Anda ingat hanya pelajaran atau hikmah dari kesalahan dan kegagalan. Bukan rasa kecewanya, namuna justru semangat karena telah mendapatkan ilmu baru dari kegagalan sebelumnya. Jangan mikirin kekecewaannya terus.

Disarankan Untuk Anda:   Cara Meyakinkan Diri Agar Percaya Diri
Kenangan pahit dapat membuat kita turun semangat. Mengingat kekecewaan bisa membuat citra diri kita hancur. Citra diri sangat dipengaruhi oleh kenangan mental. Jika kenangan mental Anda buruk, akan sangat mengganggu citra diri Anda. Oleh karena itu berusahalah untuk tidak mengingat-ngingat kenangan buruk atas kegagalan Anda.

Selasa, 16 Agustus 2016

Your wish.


Hayang aya batur ngobrol. Cari kerjaan.


Urang embung ngalakukeun sesuatu hal anu eweuh manfaatna jang urang.

Khazanahalquran.com – Dalam 30 Juz Al-Qur’an, firman Allah selalu didahului dengan Nama-Nya. Bismillah, dengan Nama Allah selalu menghiasi awal dari surat-surat Al-Qur’an. Dan bagaimana Allah mengakhiri firman-Nya dalam Al-Qur’an? Dia mengakhirinya dengan An-Nas yang memiliki arti manusia. Demikian erat hubungan antara Allah dengan manusia hingga Allah mengawali Al-Qur’an dengan Nama-Nya dan mengakhirinya dengan manusia. Kali ini kita akan mempelajari suatu hal yang harus diketahui oleh seorang manusia. Imam Ja’far As-Shodiq pernah berkata,

“Kutemukan ilmu manusia seluruhnya hanya terangkum dalam 4 hal,

Mengenal tuhannyaMengetahui apa yang diperbuat Tuhan kepadanya.Mengetahui apa yang diinginkan Tuhan darinya.Mengetahui apa saja yang memalingkannya dari agama.”

Mungkin dibenak kita telah terbersit, mengapa Allah menyuruh kita solat, puasa, menjalankan kewajiban yang lain? Mengapa Allah melarang kita dengan berbagai macam larangan? Apa yang sebenarnya di inginkan Allah dari manusia?

Kali ini kita akan fokus kepada satu pengetahuan yang harus kita pahami menurut Imam Ja’far Shodiq. Suatu pertanyaan yang harus terjawab secara utuh. Apa yang di inginkan Allah dari hamba-Nya?

Allah swt menginginkan sesuatu dari hamba-Nya padahal Dia tidak membutuhkan apapun dari seorang hamba. Kita semua meyakini bahwa Allah tidak butuh dengan ibadah kita. Imam Ali dalam khutbahnya ketika berbicara tentang Allah swt, beliau berkata,

“(Allah) Tidak mendapat manfaat sedikitpun dari seorang yang taat dan tidak mendapat kerugian sedikitpun dari hamba yang bermaksiat.”

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ -٧-

“Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu.”(Az-Zumar 6)

 

Jika Allah tidak butuh apapun dari manusia, lalu apa yang diinginkan dari hamba-Nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali pada tujuan manusia diciptakan. Dalam Hadist Qudsi-Nya, Allah berfirman,

“Hamba-Ku, Ku Ciptakan segala sesuatu untukmu dan Ku Ciptakan engkau untuk-Ku”

“Wahai Daud, katakan pada hamba-Ku ! Ku Ciptakan mereka tidak untuk memperoleh keuntungan, tapi agar mereka mengambil keuntungan dari-Ku.”


 

Jika kita melihat tujuan penciptaan didalam Al-Qur’an, akan kita temukan ayat yang sering telah kita hafal bersama, Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ -٥٦-

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat 56)

 

Ya, tujuan manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Ibadah bukan hanya berbentuk ritual semata. Perlu kita ingat bahwa setiap perbuatan yang dilandasi dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, maka itu juga termasuk ibadah. Termasuk makan, minum, mencari nafkah, semua itu bisa menjadi ibadah dan mendapatkan pahala di sisi Allah.

Tapi ibadah bukanlah tujuan akhir. Kita akan temukan tujuan yang lebih jauh dari ibadah ketika Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ -٢١-

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhan-mu yang telah Menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”(Al-Baqarah 21)

Bahkan ketika Allah mewajibkan ibadah puasa, ada tujuan lain dibalik ibadah itu. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ -١٨٣-

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah 183)

 

Takwa adalah tujuan selanjutnya dibalik ibadah. Allah memerintahkan kita untuk beribadah agar kita mencapa derajat takwa. Lalu apa untungnya jika kita telah bertakwa?

Butuh kajian khusus untuk membahas takwa, secara singkat kita akan mengutip satu ayat dari Allah swt yang menjelaskan tentang keuntungan dari takwa. Allah berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً -٢- وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ -٣-

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Membukakan jalan keluar baginya, Dan Dia Memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (At-Thalaq 2)

 

Namun takwa juga bukan tujuan akhir dari penciptaan. Ada tujuan akhir dibalik ketakwaan. Ketika Allah menyuruh manusia untuk beribadah agar mereka bertakwa, Allah menginginkan sesuatu dari mereka. Dan tujuan akhir dibalik ketakwaan itu adalah kesuksesan manusia itu sendiri. Allah berfirman,

وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -١٨٩-

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Al-Baqarah 189)

وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -١٣٠-

“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (Ali Imran 130)

فَاتَّقُواْ اللّهَ يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -١٠٠-

“Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.” (Al-Ma’idah 100)

Tujuan akhir dari penciptaan manusia kembali kepada diri mereka sendiri. Apa yang diinginkan Allah dari hamba-Nya?

Allah ingin mereka menjadi orang yang sukses. Allah ingin melihat hamba-Nya mencapai kesempurnaan. Keinginan Allah ini tidak untuk menguntungkan Diri-Nya sama sekali. Semua yang di inginkan Allah dari hamba-Nya murni untuk keuntungan mereka sendiri.

Pemahaman ini begitu penting karena kita tidak akan pernah merasa terbebani dengan segala aturan Allah swt setelah meyakini hal ini. Mengapa?

Karena semua yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri. Sekecil apapun kebaikan akan kita nikmati dan sekecil apapun keburukan akan kita pertanggung jawabkan.

Namun kesuksesan itu begitu samar. Setiap kepala memiliki arti kesuksesan yang berbeda-beda. Teringat ketika tukang sihir Fir’aun hendak melawan Nabi Musa as, apa arti kesuksesan yang ada di pikiran mereka?

وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلَى -٦٤-

“Dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari ini.” (Thaha 64)

Kesuksesan bagi mereka adalah menang melawan musa dan mendapat kedudukan tinggi di sisi Raja. Namun, apa kesuksesan yang sebenarnya menurut Al-Qur’an? Apakah Allah menginginkan manusia mencampakkan dunia dan hanya mendapat kesuksesan di akhirat? Siapa sebenarnya orang yang sukses itu?

Khazanahalquran.com – Secara ringkas kita telah sebutkan orang-orang sukses menurut Al-Qur’an dalam hikmah Siapakah Orang Sukses menurut Penciptanya.

Namun kali ini kita akan fokus pada syarat utama bagi seseorang yang ingin mencapai kesuksesan. Syarat yang paling wajib bagi manusia yang hendak menapaki jalan kesempurnaan.

Dalam bagian sebelumnya kita telah sadar bahwa yang Allah inginkan dari manusia adalah kesuksesan mereka sendiri. Yaitu sampainya seorang hamba kepada kesempurnaan. Allah sama sekali tidak mengaharapkan apapun untuk keuntungan Diri-Nya.

Namun, bagaimana seorang hamba bisa meraih kesuksesan? Allah swt berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى -١٤-

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” (Al-A’la 14)

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا -٩-

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (As-Syams 9)

 

Ya, orang sukses adalah orang yang mensucikan dirinya. Karena penyucian diri adalah syarat utama bagi seorang yang menaiki tangga kesempurnaan. Ketika hati masih kotor, msutahil dia akan mendekat pada kesempurnaan yang suci. Semua perintah dan larangan Allah itu bertujuan untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan. Akankah dia akan sempurna jika hatinya penuh dengan noda dan dosa?

Bahkan salah satu tugas penting dari para nabi adalah mensucikan jiwa umatnya. Karena nabi diutus untuk membimbing manusia menuju kesempurnaan. Dan salah satu fase terpenting untuk menjadi sempurna adalah penyucian diri.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ -٢-

“Dia-lah yang Mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (Jumu’ah 2)

Selain itu, tidak ada surat didalam Al-Qur’an yang menyebutkan sumpah sebanyak Surat As-Syams. Surat ini didahului 7 sumpah. Dan ternyata, semua sumpah itu untuk menekankan betapa beruntungnya seorang yang mensucikan diri.

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا -١- وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا -٢- وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا -٣- وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا -٤- وَالسَّمَاء وَمَا بَنَاهَا -٥- وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا -٦- وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا -٧- فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا -٨- قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا -٩-

“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita), demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan), demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaan(ciptaan)nya, maka Dia Mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu).” (As-Syams 1-9)

 

Dengan sifat Pengasih dan Penyayangnya, Allah ingin melihat hambanya berhasil, sukses dan sempurna. Berada dalam kenikmatan abadi di surga. Tapi apakah Allah hanya ingin kita sukses ketika di akhirat saja?

Banyak orang berpikir bahwa islam adalah agama yang fokus kepada akhirat saja. Dia secara tidak sadar telah mendzolimi islam itu sendiri. Seakan akan pengikut islam itu pasti akan tertindas, miskin dan hidupnya tidak enak karena yang dipikirkan hanya kehidupan akhirat saja.

Sungguh tidak demikian ! Allah tidak hanya ingin hamba-Nya sukses di akhirat. Dia ingin melihat hambanya sukses di dunia sampai di akhirat. Coba perhatikan, apa janji Allah bagi manusia yang memilih jalan kebaikan,

مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ -٩٧-

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akanKami Beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(An-Nahl 97)

Dalam ayat ini, Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang berlipat di akhirat ketika seorang memilih jalan keimanan dan berbuat baik. Islam bukan agama ritual saja yang menghabiskan umur hanya didalam Mihrob. Islam sangat memperhatikan kehidupan dunia, walaupun selalu di ingatkan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.

Silahkan menikmati kenikmatan dunia dan mencapai kesuksesan di dalamnya. Karena tolak ukur kesuksesan adalah seberapa dekat seorang hamba kepada Allah swt. Dan kedekatan itu mustahil diraih tanpa kesucian hati. Sesuatu yang kotor tidak bisa mendekat kepada Sumber Kesucian.

Karenanya, seorang yang berpaling dari Allah swt tidak akan mencapai kesuksesan walaupun itu di dunia. Dia tidak akan memiliki kebahagiaan dan ketenangan hati. Allah berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً-١٢٤-

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (Thaha 123)

Garasi yang dipenuhi mobil mewah, rekening berisi milyaran rupiah dan jabatan setinggi apapun tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Berapa banyak orang yang bunuh diri di puncak karir kehidupannya?

Bukan disitu letak kebahagiaan. Ia ada didalam hati. Dan hati itu tidak akan pernah bahagia sebelum kita serahkan pada pemilik sebenarnya.

أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ -٢٨-

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d 28)

 

Apa yang Allah inginkan dari kita?

Dia hanya ingin kita sukses di dunia sampai kelak di akhirat. Dan orang yang berpaling dari-Nya sungguh telah mendzolimi dirinya sendiri. Kenapa?

Karena Allah telah memberi sarana dan fasilitas yang lengkap untuk mengantarkannya pada pintu kesuksesan. Akal yang sempurna diberikan, para nabi diutus untuk membimbing, Al-Qur’an dijaga agar tetap menjadi petunjuk. Semua itu disediakan untuk mengantar manusia pada kesuksesan dan kesempurnaan. Tapi masih ada saja yang menolak. Bukankah mereka telah mendzolimi diri mereka sendiri?

وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ-١-

“Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa melanggar hukum -hukum Allah, maka sungguh, dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (At-Thalaq 1)

وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ-١١٠-

“Dan barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya.” (An-Nisa’ 110)

 

Manusia telah berbuat jahat kepada dirinya sendiri. Sementara Allah swt tidak pernah sedikit pun mendzolimi hamba-Nya.

وَمَا اللّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعَالَمِينَ -١٠٨-

“Dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapa pun) di seluruh alam.” (Ali Imran 108)

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْماً لِّلْعِبَادِ -٣١-

“Padahal Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba- hamba-Nya.” (Ghafir 31)

 

Apa yang Allah inginkan dari manusia? Setelah penjelasan panjang tadi, sebenarnya Allah menginginkan kemudahan bagi hamba-Nya. Allah berfirman,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ -١٨٥-

“Allah Menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak Menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah 185)

 

Sebenarnya agama ini tidaklah sulit. Jangan pernah menganggap agama membelenggu kita. Islam hanya membimbing kita untuk menjadi manusia sempurna. Hanya orang yang tidak memahami yang menganggap agama adalah beban. Bukankah Allah tidak pernah menentukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan hamba-Nya?

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا-٢٨٦-

“Tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah 286)

 

Bukankah Allah tidak pernah menyiksa sebelum memberi peringatan dan mengutus para nabi? Semua itu Allah lakukan agar manusia mencapai kesuksesan dunia akhirat. Dia tidak ingin merepotkan hamba-Nya dengan perintah dan larangan. Karena semua keuntungan hanya akan kembali kepada si hamba.

مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـكِن يُرِيدُ لِيُطَهَّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ -٦-

“Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak Membersihkan kamu dan Menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” (Al-Ma’idah 6)

يُرِيدُ اللّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً -٢٨-

“Allah hendak Memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (An-Nisa’ 28)

 

Imam Muhammad Al-Baqir pernah berkata,

Demi Allah, Dia tidak mengingingkan sesuatu dari manusia kecuali 2 hal. (Dia menginginkan) agar manusia mensyukuri nikmat agar ditambah (kenikmatan itu) kepada mereka. Dan menyesali dosa-dosa agar (Allah) mengampuni mereka.”

Akhirnya, tidak akan sempurna iman seseorang sebelum ia rela dan tidak merasa keberatan dengan ketentuan Allah swt.

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً -٦٥-

“Maka demi Tuhan-mu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’ 65)

 

Mengapa kita menganggap agama ini beban padahal yang dihalalkan jauh lebih banyak dari yang diharamkan. Ingatkah anda ketika Nabi Adam berada di surga, Allah menghalalkan semuanya dan hanya mengharamkan satu buah saja.

Begitulah gambaran kehidupan dunia. Allah menghalalkan segala sesuatu dan mengharamkan sebagian kecil darinya tapi kita selalu merasa keberatan untuk meninggalkannya. Padahal semua hal yang dilarang itu karena akan membahayakan diri manusia sendiri.

Jika kita mau berpikir logis, dimana beban agama itu? Padahal sekecil apapun kebaikan akan kita nikmati sendiri.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا -٧-

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (Al-Isra’ 7)

 

Kesimpulannya, Manusia diciptakan untuk beribadah ⇒ Ibadah bertujuan untuk menumbuhkan takwa ⇒ Dibalik ketakwaan ada kesuksesan ⇒ Dan puncaknya, Allah hanya ingin manusia mencapai kesuksesan dunia dan akhirat.

Semoga dengan mengetahui apa yang diinginkan Allah dari manusia, kita tidak lagi merasa terbebani dengan aturan agama. Karena Syariat Allah ini hanya untuk keuntungan kita semata.

Khazanahalquran.com – Kata Sukses adalah kata yang multi tafsir. Setiap orang memiliki arti sendiri dalam melihat kesuksesan. Ada orang menganggap kesuksesan adalah memiliki harta yang banyak. Sementara yang lain menganggap jabatan tinggi adalah puncaknya. Ada lagi yang mengklaim bahwa kesuksesan adalah ketika hati kita tenang dan tentram. Sebenarnya apa arti sukses itu? Siapa yang layak disebut “orang sukses”?

Kita akan bertanya pada pencipta manusia. Melalui Al-Qur’an, kita akan mencari tau orang-orang sukses menurut Penciptanya.

Pertama, orang yang mengikuti Rasulullah saw.

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -١٥٧-

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Quran), mereka itulah orang-orang beruntung.”
(Al-A’raf 157)

 

Kedua, orang yang hanya memiliki dua kata dihadapan Rasulullah saw. Yaitu Sami’na wa Atho’na.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٥١-

Hanya ucapan orang-orang Mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang- orang yang beruntung.
(An-Nur 51)

 

Ketiga, orang yang sukses menurut Al-Qur’an adalah orang yang beriman kepada Al-Qur’an dan meyakini Hari Akhir, rajin melaksanakan solat dan membagi hartanya dengan orang lain.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ -٣- والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ -٤- أُوْلَـئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٥-

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami Berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (al-Quran) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhan-nya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Al-Baqarah 3-5)

 

Ke-Empat, orang yang selalu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran (Amar Ma’ruf Nahi Munkar).

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -١٠٤-

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(Ali Imran 104)

 

Kelima, orang yang berat timbangan amal shalehnya di akhirat.

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٨-

“Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung.”
(Al-A’raf 8)

 

Ke-Enam, orang yang berjihad dengan harta dan nyawanya.

لَـكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ جَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٨٨-

“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, (mereka) berjihad dengan harta dan jiwa. Mereka itu memperoleh kebaikan. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(At-Taubah 88)

 

Ke-Tujuh, memberikan hak kerabat dan orang-orang miskin hanya karena Allah swt.

فَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ ذَلِكَ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٣٨-

“Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Ar-Rum 38)

 

Ke-Delapan, tidak mencintai musuh-musuh Allah, siapapun mereka.

لَا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٢٢-

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluar-ganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah Ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah Menguatkan mereka dengan pertolongan** yang datang dari Dia. Lalu Dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah Rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.”
(Al-Mujadalah 22)

 

Ke-Sembilan, menjaga diri dari sifat Kikir.

وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -١٦-

“Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(At-Taghobun 16)

 

Ke-Sepuluh, mencintai sesama dan tidak dengki terhadap apa yang diterima saudaranya. Serta mementingkan orang lain walau dia juga dalam kondisi yang memerlukan.

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -٩-

“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Medinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Al-Hasyr 9)

 

Ke-Sebelas, orang yang bertaubat kemudian melakukan amal kebaikan.

فَأَمَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَعَسَى أَن يَكُونَ مِنَ الْمُفْلِحِينَ -٦٧-

“Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung.”
(Al-Qashas 67)

 

Kedua belas, orang yang mensucikan diri.

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّى -١٤-

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.”
(Al-A’la 14)

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا -٩-

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)”
(As-Syams 9)



Nikmat Sehat dan Waktu Luang yang Membuat Manusia Tertipu


Nikmat Sehat Dan Waktu Luang Dua Nikmat Yang Sering Dilupakan Manusia 2 Nikmat Yang Sering Dilupakan Nikmat Waktu Luang Hadits Tentang Nikmat Sehat

Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyakmanusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”

Ibnul Jauzi juga mengatakan nasehat yang sudah semestinya menjadi renungan kita, “Intinya, dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan, sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti. Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.”[1]

‘Umar bin Khottob mengatakan,

إنِّي أَكْرَهُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ يَمْشِي سَبَهْلَلًا أَيْ : لَا فِي أَمْرِ الدُّنْيَا ، وَلَا فِي أَمْرِ آخِرَةٍ .

“Aku tidak suka melihat seseorang yang berjalan seenaknya tanpa mengindahkan ini dan itu, yaitu tidak peduli penghidupan dunianya dan tidak pula sibuk dengan urusan akhiratnya.”

Ibnu Mas’ud mengatakan,

إنِّي لَأَبْغَضُ الرَّجُلَ فَارِغًا لَا فِي عَمَلِ دُنْيَا وَلَا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ

“Aku sangat membenci orang yang menganggur, yaitu tidak punya amalan untuk penghidupan dunianya ataupun akhiratnya.”[2]

Semoga Allah selalu memberi kita taufik dan hidayah-Nya untuk memanfaatkan dua nikmat ini dalam ketaatan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang tertipu dan terperdaya.

Faedah ilmu di sore hari, 17 Dzulqo’dah 1430 H

 

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com



Sumber: https://rumaysho.com/634-nikmat-sehat-dan-waktu-luang-yang-membuat-manusia-tertipu.html




Sabtu, 06 Agustus 2016

Meaningful.

Just thinking about how to make yourself useful.

I want a job: or i want my life;

Dimana keahlian urang berpengaruh, berperan penting, diperlukan dan dibutuhkan sehingga memberikan manfaat bagi orang banyak. Sehingga menjadikan keberadaanku menjadi bermakna.

kebahagiaan Sebenarnya bukan mencari, menemukan atau menentukan apa yang bermakna bagi kita.

Tetapi kebahagiaan adalah makna tentang keberadaan kita sendiri, kita menjadi orang yang tidak bisa di alih posisikan oleh peran pengganti yang lain.
diri kita mempunyai makna tersendiri. Dan diri kita bermakna.

Ini bukan masalah tentang menjadi tenaga ahli atau pekerjaan, ini tentang diri kita menjadi bermanfaat dan dapat memberikan makna tersendiri.

Jika pekerjaan seperti itu memang ada atau aku di berikan kesempatan mendapatkan hal tersebut, mungkin ketika menjalaninya tanpa beban dan sangat menikmatinya, karena melakukan hal yang menjadi jati dirinya sendiri sudah bukan menjadi sebuah pekerjaan lagi, melainkan kehidupan.

Menjadi kaya tentu memang sudah menjadi keharusan, tetapi bekerja atau hidup hanya Sekedar demi mencari uang semuanya hanya terasa diperbudak.
Uang memang segalanya, segalanya membutuhkan uang, tapi ada hal yang lebih dari sekedar uang, yaitu kepuasan batin entah akan dunia makna yang kita ciptakan sendiri atau memang peran kita yang seharusnya bermanfaat untuk kepentingan yang menyangkut orang banyak.